MUDA

Menemukan Kompas Idealisme Gen Z Menuju Perubahan Hakiki

Rasulullah membentuk generasi muda para sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, dan Zubair bin Awwam. Mereka tidak hanya berani, tapi juga memiliki arah perjuangan. Mereka sadar bahwa perubahan hakiki bukan soal menggulingkan penguasa, tapi menegakkan sistem yang berpihak kepada kebenaran Allah.

Bayangkan jika semangat itu hidup lagi di dada pemuda hari ini. Jika energi kreatif Gen Z diarahkan bukan untuk konten viral, tapi untuk membangun kesadaran umat. Jika kecerdasan digital mereka digunakan untuk menyebarkan cahaya Islam, bukan sekadar mengikuti tren.

Kini saatnya pemuda muslim kembali jadi penjaga arah perubahan. Sebab tanpa Islam sebagai kompas, perubahan hanya berputar di lingkaran sistem sekuler yang sama. Hanya berganti rupa, tapi tak berganti nilai. Kita bisa bicara kemajuan, tapi tanpa syariat, semua itu semu. Modern di rupa, kosong di makna.

Oleh karena itu, perubahan hakiki menuntut keberanian ideologis. Keberanian untuk menjadikan Islam bukan sekadar identitas pribadi, tapi sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Dari cara berpikir, berpolitik, hingga membangun ekonomi. Itulah yang membedakan antara perubahan yang lahir dari semangat emosional dan perubahan yang berpijak pada landasan akidah.

Dan di tengah arus dunia yang terus berubah ini, pemuda harus memilih apakah ingin menjadi pengikut tren atau penggerak sejarah. Karena sejarah tidak menunggu orang ragu. Ia hanya mencatat mereka yang yakin terhadap arah perjuangannya.

Maka, biarlah dunia menilai pemuda muslim terlalu ideologis. Hiraukan seruan-seruan yang menyebabkan kita tidak pernah berani untuk mulai bergerak. Sebab tanpa ideologi, perubahan hanyalah bunyi kosong. Dan di antara kebisingan zaman ini, kita butuh pemuda yang tenang tapi tegas. Pemuda yang tahu bahwa perubahan terbesar bukan ketika dunia memujanya, tapi ketika Allah meridhainya.[]

Saffanah Ilmi Mursyidah, Pegiat Literasi

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button