NUIM HIDAYAT

Mengambil Hikmah Gerakan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir

“Jangan tafarruq (pecah belah), perlu silaturrahmi dan kerjasama gerakan-gerakan Islam ini,“ kata MS Kaban dalam diskusi buku Gerakan Islam Internasional, Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir, Sejarah dan Pemikirannya yang ditulis oleh Nuim Hidayat.

Mantan Menteri Kehutanan ini menyatakan bahwa gerakan-gerakan Islam ini muncul setelah Khilafah Utsmaniyah runtuh tahun 1923 (1924). “Kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara ini dulu ada kerjasama dengan Utsmaniyah,“ terangnya dalam diskusi di Bogor yang dihadiri aktivis-aktivis Dewan Dakwah Depok dan Bogor, Rabu (28/10/2026).

Wakil Ketua Dewan Syura Partai Ummat ini menceritakan waktu ia kuliah tahun 1987, tidak ada gerakan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir. “Gerakan ini ada di Indonesia kan tahun 80-an. Kita perlu mengenal gerakan ini dan kerjasama perlu kita lakukan dalam membangun Indonesia,“ jelasnya. Di kampus-kampus Indonesia waktu itu yang berkembang adalah HMI, IMM, PMII, GMNI, dan lain-lain.

Ia juga menceritakan bagaimana perjuangan Islam HMI di kala itu. “Waktu PKI mendesak Bung Karno agar membubarkan HMI, Jenderal Sudirman dan Jenderal Ahmad Yani membelanya. Yani menyatakan bahwa langkahi mayat saya kalau mau bubarkan HMI,“ terang Bang Kaban yang juga anggota Dewan Pembina Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).

Bang Kaban juga menceritakan bagaimana ia dulu dikader oleh Mohammad Natsir. “Alhamdulillah saya mendapat pendidikan Islam langsung dari para tokoh-tokoh Islam di negeri ini. Seperti Pak Prawoto, Mohammad Roem, Rasjidi, Syafruddin Prawiranegara dan lain-lain. Dan terutama oleh Pak Natsir,“ paparnya.

Selain pernah menjadi menteri, Bang Kaban juga pernah menjadi anggota DPR. Ia pernah menulis buku tentang hukum Islam yang sah untuk diterapkan di Indonesia.

Sementara itu Nuim Hidayat, menjelaskan bahwa Ikhwanul Muslimin didirikan ulama Mesir yang alim bernama Hasan al Bana pada tahun 1928. Negara-negara otoriter di Arab melarang keberadaan Ikhwanul Muslimin, seperti Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan lain-lain.

“Presiden Amerika Trump sangat benci kepada Ikhwanul Muslimin. Bila ada orang Islam Amerika yang bagus naik menjadi anggota Kongres/Senat, maka Trump mencapnya sebagai anggota teroris Ikhwanul Muslimin. Trump pernah mengeluarkan surat keputusan pelarangan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Libanon, dan Yordania,” papar Direktur Forum Studi Sosial Politik ini.

Nuim juga menjelaskan bahwa Parlemen Eropa pada 8 Oktober 2026 lalu mengeluarkan surat peringatan untuk ‘mewaspadai Ikhwanul Muslimin‘.

Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri RI dan Ketua Partai Masyumi, mempunyai hubungan dekat dengan tokoh-tokoh Ikhwan. Pak Natsir pernah mengutus kadernya Dr Imaduddin Abdurrahim untuk menemui tokoh Ikhwan Fathi Yakan di Damaskus, Suriah.

“Kabarnya lebih dari 40 buku Ikhwan diterjemahkan di masa Pak Natsir. Pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ini mempunyai kebiasaan membaca tafsir Fi Zhilalil Quran karya Sayid Qutb, tokoh kedua Ikhwan. Buku-buku Sayid Qutb ‘selalu best seller‘ di Mesir. Yang terkenal di Indonesia, selain Fi Zhilalil Quran, adalah Maalim fit Thariq (Petunjuk Jalan),” jelas alumni IPB dan UI ini.

Ketua Dewan Pertimbangan Dewan Dakwah Depok ini mengharapkan para pemuda mengkaji dengan serius buku Maalim fit Thariq. Buku ini adalah buku terakhir Sayid Qutb dan ‘karena buku ini‘ ia dihukum gantung oleh penguasa zalim Gamal Abdul Nasser, 1966.

Nuim menceritakan bagaimana Sayid Qutb tertarik dengan Ikhwanul Muslimin. “Sekitar tahun 1949, ketika Hasan al Bana dibunuh oleh aparat keamanan Raja Faruk, tokoh-tokoh Amerika berpesta. Saat itu kebetulan ulama besar ini sedang ada di Amerika untuk belajar. Sayid Qutb heran, siapa tokoh besar Mesir ini. Maka Qutb kemudian mempelajari riwayat hidup Hasan al Bana dan sekembali dari Amerika (1952), ia masuk organisasi Ikhwanul Muslimin,“ ujar mantan Ketua Dewan Dakwah Depok ini. Menurutnya, ulama besar Mesir ini menjuluki Hasan al Bana, sebagai pembangun yang jenius (sesuai namanya).

Dosen Akademi Dakwah Indonesia Depok ini juga menceritakan awal mula berkembangnya Gerakan Tarbiyah di Indonesia. Benih-benihnya dimulai dari program Latihan Mujahid Dakwah yang dikembangkan Dosen ITB Imaduddin Abdurrahim di Bandung. LMD tahun 70-an itu juga dikembangkan di Jakarta, Yogyakarta dan lain-lain. “Selain itu beberapa tokoh Gerakan Tarbiyah ini (yang kemudian menjelma menjadi PKS) dibina langsung oleh tokoh-tokoh Ihwan di Universitas Madinah,“ terangnya.

Raja Feisal dari Saudi saat itu memang mempunyai hubungan yang erat dengan Ikhwanul Muslim (dan Mohammad Natsir). “Raja Feisallah yang menampung tokoh-tokoh Ikhwan ke Saudi ketika Gamal Abdul Nasser menindas Ikhwan di Mesir. Saat itu, mereka dengan tokoh dunia Islam lain seperti Abul Ala Maududi dari Pakistan, akhirnya berhasil mendirikan Universitas Islam Madinah,“ paparnya.

Dulu Saudi dekat dengan Ikhwanul Muslimin, tetapi sejak 2014, Saudi resmi melarang organisasi ini, termasuk buku-buku yang dikarang tokoh-tokoh Ikhwan di kampus-kampusnya.

“Sementara Hizbut Tahrir didirikan ulama besar dari Palestina yang bernama Taqiyuddin an Nabhani pada tahun 1953. Organisasi ini bertujuan mendirikan khilafah,“ terang redaksi Suara Islam ini.

Nuim juga menceritakan pengalamannya mengaji Hizbut Tahrir ketika masa kuliah di IPB. “Alhamdulillah saya dekat dengan Ustadz Abdurrahman al Baghdadi pembawa Hizbut Tahrir di Indonesia. Saya waktu itu juga langsung mengaji pada beliau dan beberapa ustadz lulusan Timur Tengah yang mengajarkan kitab-kitab Hizbut Tahrir. Saya tidak puas mengaji dengan senior,“ terangnya.

Ustadz Abdurrahman, kata Nuim, kalau dulu mengharamkan perjuangan dalam sistem, sekarang membolehkannya. “Beliau nampaknya juga mempelajari pemikiran tokoh-tokoh Ikhwan. Beliau kini masih aktif berdakwah di Bogor. Beliau orang alim dan banyak bukunya yang bermutu,“ paparnya.

Ustadz Abdurrahman pernah menceritakan kepada Nuim bahwa gerakan-gerakan Islam ini membangun manusia. “Karena saya mempunyai bakat untuk menulis, ustadz Abdurrahman ini mendorong saya untuk terus menulis bahkan kalau bisa tiap hari,“ jelasnya.

Karena ada konflik dengan pimpinan Hizbut Tahrir di pusat, akhirnya Ustadz Abdurrahman dikeluarkan dari Hizbut Tahrir. “Mungkin sekitar tahun 2000-an. Saya dan teman-teman juga keluar dari Hizbut Tahrir sekitar tahun 1994, karena konflik organisasi saat itu,“ jelas Nuim.

Meski telah keluar, Nuim tetap menghormati keberadaan gerakan Hizbut Tahrir. Ia menganggap bahwa gerakan Hizbut Tahrir maupun Ikhwanul Muslimin ini adalah gerakan yang mulia dan ‘mengharamkan kekerasan‘.

“Alhamdulillah ketika saya kuliah S2 di UI, saya banyak mempelajari pemikiran tokoh-tokoh Ikhwan, sehingga saya mengenal lebih dekat. Saya menulis tesis di UI membela Sayid Qutb, karena ulama besar ini dituduh oleh intelijen dan ilmuwan Barat sebagai tokoh perintis terorisme (the founder of terrorism) paska Tragedi WTC 2001. Buku ini kemudian diterbitkan penerbit GIP dengan judul Sayid Qutb Biografi dan Kejernihan Pemikirannya. Saya kuliah di UI banyak dibantu Bang Kaban,” jelasnya.

Nuim juga menceritakan pengalamannya ikut dalam Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus se Indonesia (FSLDK). “Waktu saya kuliah dulu, pemikiran-pemikiran Hizbut Tahrir cukup mewarnai FSLDK. Dulu akhir 80-an atau awal 90-an itu mahasiswa bisa menyatu, meski jamaahnya berbeda-beda. Ada yang dari Jamaah Tarbiyah, dari Jamaah Shalahuddin (Yogya), dari Jamaah Salman (ITB) dan lain-lain. Tapi sekitar tahun 1990, ketika saya ikut FSLDK di Bandung, bibit perpecahan itu mulai ada. Beberapa aktivis menangis, khawatir FSLDK itu pecah. FSLDK pecah ketika terbentuknya KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) tahun 1998. Harusnya FSLDK bisa menyatu lagi,“ jelas Nuim. []

BACA JUGA
Close
Back to top button