INTERNASIONAL

Mengapa Inggris Tak Evakuasi Mahasiswanya dari Gaza?

Mahasiswa Palestina di Gaza yang diterima di universitas top Inggris kini terdampar akibat ketidakpedulian politik.

Negara Lain Bertindak

Irlandia berkoordinasi langsung dengan Israel untuk mengevakuasi mahasiswanya lewat perbatasan Karem Abu Salem (dikenal sebagai Kerem Shalom oleh Israel). Prancis dan Italia melakukan hal serupa. Para mahasiswa dipindahkan ke negara tetangga untuk menyelesaikan pemrosesan visa dan memulai studi mereka. Mereka paham taruhannya: bukan hanya akademik, tapi juga kemanusiaan. Pemerintah mereka bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan untuk mengeluarkan para mahasiswa, kemudian memfasilitasi visa dan permohonan suaka.

Inggris belum melakukan hal serupa, meskipun telah ada banyak permohonan dari mahasiswa, universitas, kelompok advokasi seperti GSI, dan anggota parlemen. Kami telah menulis surat kepada anggota parlemen, pimpinan universitas, dan British Council. Bahkan pemimpin universitas yang mendukung kami tak bisa berbuat banyak kecuali pemerintah Inggris turun tangan.

Yang paling menyakitkan dari diamnya pemerintah adalah karena ini bukan karena ketidakmampuan. Inggris bisa bertindak, tapi memilih untuk tidak. Jika pemerintah mau berkoordinasi dengan otoritas Israel dan lembaga seperti ICRC, para mahasiswa bisa dievakuasi lewat Kerem Shalom ke Mesir atau Yordania, tempat visa bisa diproses dan perjalanan bisa dilanjutkan.

Ini bukan dugaan. Ini persis seperti yang telah dilakukan negara demokratis lain. Bedanya? Mereka cukup peduli untuk mencoba.

Apa arti semua ini tentang masa depan siapa yang dianggap penting?

Inggris selama puluhan tahun telah berinvestasi dalam pendidikan internasional, menawarkan beasiswa bergengsi seperti Chevening dan Commonwealth. Inggris menjunjung tinggi pembelajaran, kesempatan, dan menjalin banyak kemitraan global. Tapi ketika menyangkut mahasiswa Gaza—yang justru mewakili semangat itu—kami dilupakan. Pesan apa yang disampaikan? Apakah kelangsungan hidup dan masa depan kami tak sepenting itu? Apakah kami tak terlihat oleh sistem yang telah menerima kami di atas kertas?

Aku masih percaya pada pendidikan Inggris. Aku terinspirasi oleh para profesornya, tertantang oleh ketatnya sistem pendidikannya, dan tertarik pada keberagaman serta nilai-nilainya. Aku telah memperjuangkan tempatku di sana. Aku berharap, bukan hanya untuk diriku tapi untuk teman-temanku juga, agar pemerintah Inggris mengingat warisannya—dan memilih untuk bertindak.

Karena jika bukan sekarang, kapan lagi? []

Sumber: AL JAZEERA

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button