Mengapa Inggris Tak Evakuasi Mahasiswanya dari Gaza?
Mahasiswa Palestina di Gaza yang diterima di universitas top Inggris kini terdampar akibat ketidakpedulian politik.
Logain Hamdan, Mahasiswa teknik komputer, penulis lepas, dan pemimpin komunitas dari Gaza
Pada September 2025, seharusnya aku memulai hidup baru. Bukan di Gaza yang dilanda perang, melainkan di ruang kuliah di Inggris. Setelah hampir setahun penuh perjuangan tanpa henti—mengisi aplikasi, mengikuti ujian, dan melintasi bom, pengungsian, dan wilayah gelap hanya untuk bisa mendaftar—aku akhirnya diterima. Bukan hanya sekali, tapi lima kali: di Universitas Glasgow, Edinburgh, Birmingham, Exeter, dan Ulster. Aku bahkan sudah mendapatkan pendanaan.
Namun alih-alih menaiki pesawat, aku masih terjebak di Gaza—tempat di mana perang telah meratakan rumah-rumah, mencuri masa depan, dan memenjarakan impian. Bom belum berhenti, tapi semangat kami juga belum padam. Tak seperti pelajar dari zona perang lainnya, kami, mahasiswa Palestina Gaza, tidak diberi jalan keluar.
Banyak negara seperti Prancis, Irlandia, dan Italia telah berhasil mengevakuasi mahasiswa mereka melalui upaya pemerintah dan jalur kemanusiaan, seperti lewat Komite Palang Merah Internasional (ICRC). Negara-negara itu menunjukkan bahwa mahasiswa mereka penting. Inggris tidak. Meski memiliki reputasi global sebagai pembela keadilan dan pendidikan, Inggris tetap diam.
Ini bukan hanya kisahku. Ini adalah jeritan bersama dari puluhan mahasiswa Gaza yang telah diterima di universitas top Inggris, baik dengan beasiswa maupun dana pribadi, yang selamat dari bom dan pengepungan hanya untuk ditinggalkan di perbatasan terakhir: tak ada pusat visa di Gaza untuk pengambilan sidik jari, dan tak ada jalan keluar tanpa evakuasi.
Setelah perang pecah pada akhir 2023, aku terpaksa menghentikan studi daringku karena kelas dan biayanya tak lagi bisa diakses di bawah pengepungan. Tapi aku tidak menyerah pada pendidikan. Aku mulai mendaftar ke universitas Inggris lewat UCAS, proses yang membutuhkan esai personal yang ditulis dengan cermat, surat rekomendasi, dokumen rinci, dan berminggu-minggu menunggu. Aku mengirim semua dari internet pinjaman di rumah kerabat atau dari ruang kerja berbayar yang kutempuh dengan berjalan kaki, di bawah terik matahari atau hujan deras, tanpa transportasi. Ada hari-hari ketika aku duduk di kursi plastik di pinggir jalan, mengirim email ke universitas dan meneliti syarat masuk sambil misil meluncur di atas kepala.
Ketika universitas meminta bukti kemampuan bahasa Inggris, tak ada pusat di Gaza yang bisa membantuku, bahkan sekadar untuk mendaftar. Sebagian besar universitas Inggris tidak menerima Duolingo—satu-satunya tes yang bisa kuakses dan kuperoleh secara daring. Jadi aku berusaha sekuat tenaga dan mendaftar tes yang disetujui universitas. Siang hari aku bekerja lepas sebagai programmer mobile untuk menyambung hidup, malam hari aku belajar bahasa Inggris, sering kali hanya ditemani cahaya senter dari ponsel.
Beberapa tes mensyaratkan pengawasan kamera dan mikrofon secara terus menerus—sangat sulit di zona perang di mana pengungsian, kebisingan, dan internet yang tidak stabil membuat konsentrasi nyaris mustahil. Satu kesalahan kecil bisa membatalkan seluruh ujian. Baterai laptopku sering mati sebelum ujian selesai. Tapi aku bertahan dan berhasil.
Keluargaku juga haus akan pendidikan. Kakakku adalah insinyur mesin yang memenangkan beasiswa kompetitif Qaddumi tahun lalu untuk program S2 di Universitas Liverpool pada Januari 2025, tapi harus ditunda. Adikku diterima dalam program kedokteran yang didanai pemerintah Turki di Universitas Samsun, juga tertunda karena perang. Kami bertiga, dengan mimpi dan tekad yang sama, kini terjebak di Gaza. Kami sudah melakukan semuanya dengan benar. Jadi, mengapa kami ditinggalkan?
Setelah perjuangan panjang, aku akhirnya lulus ujian dan berhasil mengubah tawaran bersyarat dari universitas menjadi tawaran tanpa syarat. Aku juga telah mendapatkan dana untuk menutupi setidaknya biaya kuliah dan hidup selama tahun pertama. Bahkan ada yayasan swasta yang siap membantu, dengan syarat aku bisa mengajukan visa.
Namun saat mencoba mengajukan visa, aku menemui jalan buntu: pengambilan sidik jari biometrik. Inggris tidak punya pusat visa di Gaza. Untuk menyelesaikan proses ini, aku harus menyeberangi perbatasan yang tertutup kecuali aku masuk dalam daftar evakuasi. Ada lebih dari 100 mahasiswa Gaza yang diterima di universitas Inggris, 48 di antaranya dengan beasiswa penuh, menghadapi kebuntuan yang sama. Banyak dari kami mulai kehabisan waktu. Di Inggris, lembaga seperti Gaza Scholarship Initiative (GSI) telah berupaya menyuarakan nasib kami kepada pemerintah karena mereka percaya pada kami.
Sebagian dari kami membawa tawaran dari tahun 2024 setelah universitas bersedia menunda penerimaan. Namun sebagian besar universitas tidak akan memberi keringanan lagi. Bagi kami semua, 2025 adalah kesempatan terakhir.






