Mengapa Partai-Partai Arab Sulit Menjadi ‘Penentu Kemenangan’ dalam Pemilu Israel?
Proyeksi hitung cepat menunjukkan jika blok Eisenkot berkoalisi dengan partai-partai Arab, mereka dapat menggeser Netanyahu. Namun, para pengamat tidak yakin hal itu akan terjadi.
Seberapa Layak Kemitraan Tersebut Secara Politik?
Para pengamat terbelah mengenai hal ini. Menurut Najar, kemitraan dengan partai-partai Arab tidak hanya layak, tetapi mungkin merupakan satu-satunya jalur realistis bagi Eisenkot untuk menyingkirkan Netanyahu.
Omar Shaban, Direktur Palthink for Strategic Studies, menunjuk pada fakta bahwa Mansour Abbas, pemimpin Ra’am, telah menunjukkan kesediaan untuk bergabung dengan pemerintahan Eisenkot jika kandidat Israel tersebut terpilih, dengan syarat urusan keamanan internal ditangani oleh partai Arab.
Abbas bahkan telah menunjuk politisi Yahudi Yoav Segalovitz di nomor urut dua pada daftar pemilu Ra’am, terang Shaban. Kolaborasi semacam itu, jika terwujud, dapat membantu membina hubungan yang lebih baik antara warga Palestina berwarganegara Israel dan warga Yahudi Israel.
Sementara itu, pada Rabu (28/10/2026), pemimpin Joint List Yousef Jabareen menyatakan partainya siap mengambil tanggung jawab untuk menjatuhkan koalisi sayap kanan Netanyahu.
“Pemerintah telah membuat hidup setiap warga negara Arab menderita,” ujar Jabareen sebagaimana dikutip oleh surat kabar Yedioth Ahronoth. Gerakannya “akan tahu cara memanfaatkan” kekuatan politiknya untuk memajukan nilai-nilainya.
Ahmad Tibi, yang juga pemimpin Joint List, pada Rabu menyatakan bahwa blok tersebut mengulurkan tangan kepada aliansi oposisi untuk menggulingkan Netanyahu. Namun, belum jelas apakah blok tersebut akan secara resmi bergabung dalam koalisi pemerintahan.
Hambatan utama kemitraan ini adalah elemen-elemen yang lebih radikal dalam masyarakat Israel yang harus dihadapi Eisenkot, yakni kelompok yang tidak ingin pemerintah bergantung pada suara warga Arab, kata Shaban.
Najar menambahkan bahwa Eisenkot juga harus meyakinkan calon mitranya, termasuk Naftali Bennett dari aliansi Together dan Avigdor Liberman yang memimpin partai Yisrael Beytenu.
“Secara politik, hal itu menuntut dirinya dan para calon mitranya untuk meninggalkan konsensus Zionis yang telah lama ada bahwa warga Arab di Israel boleh memilih, tetapi partai yang mewakili mereka bukanlah mitra yang sah dalam pemerintahan,” ujarnya.
Ghanam menguraikan empat kemungkinan hasil: pemilu ulang, pemerintahan minoritas oposisi yang didukung dari luar oleh partai Arab, pembelotan dari oposisi ke blok Netanyahu, atau pemerintahan persatuan nasional.
Syarat Kemitraan yang Diajukan Eisenkot
Menurut The Times of Israel, Eisenkot menyatakan hanya akan mempertimbangkan kemitraan dengan partai mana pun yang mengakui Israel sebagai negara Yahudi dan demokratis, mendukung nilai-nilai Deklarasi Kemerdekaan, serta berkomitmen agar seluruh warga Israel menjalankan wajib militer.
Namun, ia belum menyatakan apakah Ra’am memenuhi kriteria tersebut.






