Mengapa Partai-Partai Arab Sulit Menjadi ‘Penentu Kemenangan’ dalam Pemilu Israel?
Proyeksi hitung cepat menunjukkan jika blok Eisenkot berkoalisi dengan partai-partai Arab, mereka dapat menggeser Netanyahu. Namun, para pengamat tidak yakin hal itu akan terjadi.
Pernahkah Partai Yahudi dan Arab Berkoalisi Sebelum Ini?
Ya, ada preseden untuk langkah tersebut. Setelah pemilu 2021, Ra’am menjadi kingmaker dan dukungannya vital bagi pembentukan pemerintahan singkat Bennett-Yair Lapid saat itu.
“Ra’am berpartisipasi dalam koalisi 2021-2022, sementara partai-partai Arab sebelumnya pernah mendukung pemerintah dari luar, paling utamanya pada masa Yitzhak Rabin,” kata Najar. “Hambatannya bukan konstitusional atau praktis, melainkan ideologis.”
Tanggapan Pemimpin Partai Lain
Netanyahu pada Selasa menyatakan bahwa koalisi dengan partai-partai yang dipimpin warga Arab adalah sebuah penghinaan. “Dilarang keras mempertaruhkan Israel dan mendirikan pemerintah yang mengandalkan partai-partai Arab anti-Zionis,” tegasnya.
Bennett menegaskan ia hanya menginginkan partai Zionis di pemerintahan. Sebaliknya, Yair Golan, pemimpin partai Demokrat yang berhaluan tengah-kiri, mendesak sekutunya untuk menghentikan penolakan bekerja sama dengan partai Arab.
Apa Artinya Penolakan Ini Bagi Demokrasi Israel?
Penolakan partai oposisi untuk bekerja sama dengan partai Arab menunjukkan struktur rasis dari sistem politik Israel, tegas Najar.
“Pemimpin oposisi menggambarkan Netanyahu sebagai bahaya eksistensial bagi demokrasi, namun banyak yang lebih memilih Netanyahu tetap berkuasa daripada berbagi kekuasaan politik dengan warga Palestina di Israel,” katanya.
Najar menambahkan bahwa warga Palestina diterima sebagai pemilih saat partisipasi mereka menguntungkan sistem, tetapi ditolak sebagai aktor politik saat mereka menuntut hak untuk membentuk kebijakan. “Ini adalah konsekuensi dari sistem yang dibangun untuk mempertahankan dominasi politik Yahudi.”[]
Sumber: Aljazeera.com






