Mengenang Hari-Hari Terakhir Kehidupan Rasulullah saw
Para Sahabat Dirundung Kesedihan
Kabar duka tersebut membuat seluruh Kota Madinah diselimuti kesedihan yang mendalam. Anas r.a. menggambarkan hari itu sebagai hari paling muram yang pernah dialami kaum muslimin.
Fathimah r.a. mengungkapkan duka mendalam atas kepergian sang ayah yang telah memenuhi panggilan Sang Pencipta.
Sikap Umar bin Al-Khaththab r.a.
Umar bin Al-Khaththab r.a. terkejut dan belum bisa menerima kabar wafatnya Rasulullah saw. Ia menganggap beliau hanya pergi menemui Allah Swt. sementara waktu seperti Nabi Musa a.s.
Ia bahkan mengancam akan menghukum siapa saja yang menyebut Rasulullah saw. telah meninggal dunia.
Sikap Abu Bakar r.a.
Abu Bakar r.a. datang dari pemukimannya, lalu masuk ke kamar Aisyah r.a. untuk membuka kain penutup jasad Rasulullah saw., mencium beliau, dan menegaskan kematian beliau dengan penuh ketenangan.
Abu Bakar r.a. kemudian keluar menemui jamaah dan menenangkan Umar r.a. Ia menyampaikan pidato bersejarah untuk meneguhkan iman para sahabat.
“Barang siapa di antara kalian menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Tetapi barang siapa di antara kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Mahahidup dan tidak meninggal.”
Ia kemudian membacakan firman Allah Swt. dalam Surah Ali ‘Imran ayat 144:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِيْن مَاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
Mendengar bacaan ayat tersebut, para sahabat—termasuk Umar bin Al-Khaththab r.a.—tertegun dan menyadari sepenuhnya bahwa Rasulullah saw. telah benar-benar wafat.[]
Sumber: Disarikan dari buku Sirah Nabawiyah karya Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarokfury (Pustaka Al-Kautsar, 2012).






