NUIM HIDAYAT

Mengupas Makna Awal Surah Al-Baqarah di Pengajian Alif

Jadi kalau kita sudah mengetahui kebenaran itu, pegang teguh kebenaran itu. Jangan kita tinggalkan. Karena tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan. Maka kalau kita tahu bahwa zina itu haram, tinggalkan. Minuman keras itu haram, jauhi. Islam satu-satunya agama yang benar, pegang teguh. Shalat wajib, tegakkan dan seterusnya. Jadi kalau kita sudah tahu kebenaran, jangan kita ragu-ragu atau tinggalkan. Pegang teguh kebenaran itu, insya Allah hidup kita akan bahagia dunia dan akhirat.

Kata berikutnya, هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ, petunjuk bagi orang yang bertakwa. Ya Al-Qur’an petunjuk bagi orang yang bertakwa. Orang-orang kafir tidak menghormati Al-Qur’an dan tidak menjadikannya petunjuk. Bahkan diantara mereka ada yang mencari-cari kelemahan Al-Qur’an dan kemudian mengolok-olokkannya. Bagi orang yang faham Al-Qur’an, olok-olokkan orang kafir terhadap Al-Qur’an itu menunjukkan kebodohannya. Karena para cendekiawan Islam dari generasi ke generasi telah meneliti Al-Qur’an ini dan tidak menemukan kelemahannya, justru yang ditemukan adalah kelebihan atau mukjizatnya. Baik mukjizat sains, ilmu sosial, ilmu psikologi, ilmu ekonomi, ilmu pendidikan dan lain-lain. Al-Qur’an adalah puncaknya ilmu pengetahuan.

Dalam Islam, orang yang paling mulia itu bukanlah presiden, profesor doktor, orang kaya, orang bangsawan atau lainnya. Orang yang termulia menurut Al-Qur’an adalah orang yang bertakwa. Kenapa? Karena orang yang bertakwa itu telah mengerahkan sepenuh jiwanya untuk taat kepada Allah dan meninggalkan laranganNya. Orang kaya atau miskin bisa menjadi bertakwa. Profesor atau orang yang tidak bersekolah formal bisa menjadi orang yang bertakwa. Presiden atau tukang becak bisa menjadi orang yang bertakwa. Dan dalam Islam, tukang becak yang bertakwa lebih baik daripada presiden yang jahat.

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ, mereka yang beriman kepada yang gaib. Beriman kepada yang gaib, yang merupakan ciri pertama orang bertakwa ini sangat penting. Yang gaib bermakna, yang tidak dapat dijangkau panca indera kita. Yang tidak bisa dilihat mata kita. Ada yang gaib bagi kita, tapi tidak bagi orang-orang yang dipilih Allah Swt.

Malaikat, setan, surga dan neraka, keberadaan Allah Swt adalah gaib bagi kita. Tapi bagi Rasulullah saw tidak gaib. Rasulullah pernah melihat hal-hal yang gaib itu. Hanya Allah yang bisa memperlihatkan hambanya kepada hal-hal yang gaib.

Iman kepada yang gaib itu penting bagi kita. Untuk apa? Agar hidup kita bahagia dunia dan akhirat. Dengan keyakinan kepada yang gaib, maka kita takut untuk berbuat dosa atau melakukan hal-hal yang dilarang Allah Swt. Kita takut berzina, mencuri, membunuh tanpa haq, minum minuman keras, berbohong dan lain-lain. Orang yang tidak percaya kepada yang gaib, berbuat seenaknya dan akhirnya bisa membuat kejahatan yang besar dan ia tidak merasa bersalah. Misalnya Donald Trump dan Netanyahu yang tangannya berlumuran darah telah membunuh lebih dari 72 ribu orang Muslim Palestina. Kedua orang itu merasa tidak bersalah dan terus tertawa-tawa dengan kejahatan besar yang telah dilakukannya.

Yang gaib itu tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Kita bisa menyatakan rasa manis itu sebenarnya gaib, karena kita hanya bisa merasakan tidak bisa melihatnya. Keberadaan Allah meski mata kita tidak melihatnya, tapi hati kita merasakan kehadiranNya di saat-saat yang khusyuk. Misalnya ketika kita shalat di malam hari dan kemudian berdoa kepada Allah dengan khusyuk. Kita merasakan ketenangan, kebahagiaan bersama Allah di situ meski kita tidak melihatNya.

وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ,

mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Mendirikan shalat ciri orang yang bertakwa selanjutnya ini juga hal yang sangat penting. Orang yang tidak pernah shalat atau shalatnya jarang, akan kelihatan dalam perilakunya. Orang yang terbiasa shalat (apalagi sering khusyuk), akan menjalani kehidupan dengan hati-hati. Ia tidak gampang sembrono dan ngawur dalam hidupnya. Orang yang suka berbuat dosa besar, berbohong, korupsi dan lain-lain, menunjukkan adanya ketidakberesan dalam shalatnya.

Rasulullah menyatakan bahwa shalat adalah mikrajnya orang mukmin. Shalat menjadikan diri kita tenang dan bahagia berhubungan dengan Yang Maha segalanya. Pernah ada penelitian, bahwa karyawan yang shalatnya rajin kinerjanya lebih baik daripada orang yang tidak pernah atau jarang shalat. Shalat seperti merefresh otak dan jiwa kita yang tadinya mungkin sibuk dengan hal-hal yang bersifat duniawi, ditarik ke alam yang lebih tinggi yang membuat akal dan jiwa kita menjadi lebih tenang dan bahagia.

Islam tidak hanya mengatur hubungan kita dengan Tuhan belaka. Tapi juga mengatur hubungan baik dengan manusia. Hubungan baik dengan manusia ini salah satu tandanya adalah kita tidak segan untuk menginfakkan sebagian harta kita kepada orang lain yang membutuhkan. Di sini menunjukkan keindahan ajaran Islam itu.

Seorang Muslim yang berpegang teguh pada Al-Qur’an, hatinya akan lembut dan peka melihat penderitaan orang lain. Seorang Muslim yang baik, tidak akan bermewah-mewah sementara di sekitarnya ribuan orang miskin menderita. Seorang Muslim tidak akan membiarkan orang-orang di sekitarnya kelaparan sementara dirinya tiap hari makan kekenyangan.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button