Mengupas Makna Awal Surah Al-Baqarah di Pengajian Alif
Alhamdulillah di hari yang ke 12 Ramadhan ini saya diamanahi untuk ceramah di Pengajian Alif Depok. Pengajian Alif adalah majelis taklim yang sehari-harinya dibimbing oleh Ustadz Irwanda, alumni Pesantren Darussalam Gontor.
Dalam pengajian kali ini saya menyampaikan tadabbur surah al Baqarah ayat 1-3: 1. الٓمّٓ
Alif Lām Mīm.
- ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,
- الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
Tentu kita bertanya-tanya mengapa Al-Qur’an di surah ini kok dimulai dengan penggalan huruf, tidak dimulai dengan kata. Sayid Qutb dalam “Tafsir Fi Zhilalil Qur’an” menyatakan bahwa penggalan huruf ini untuk menarik hati orang kafir Quraisy waktu itu. Mereka kebanyakan kan mendengar permulaan syair, misalnya, kebanyakan dengan kata, ini kok Al-Qur’an dilafalkan Nabi Muhammad saw dengan penggalan huruf tentu ini menimbulkan keterkejutan dan ketertarikan.
Selain Alif Lām Mīm, di surah-surah lain Al-Qur’an juga ada yang dimulai Alif Lām Mīm Ṣād, Alif Lām Rā, Alif Lām Mīm Rā, Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād, Ṭā Hā dan lain-lain.
Ayat berikutnya,
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,
Kita tentu bertanya kenapa dzalikal kitaabu, bukan hadzal kitaabu, kitab itu bukan kitab ini. Para ahli tafsir menyatakan digunakannya kata dzalika, untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan Allah itu berasal dari Lauh Mahfudz. Dari sisi Allah Yang Maha Mulia. Al-Qur’an ini bukan buatan Rasulullah saw. Tapi merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.
Laa raiba fih, maknanya tidak ada keraguan bagi orang mukmin. Al-Qur’an ini tidak ada keraguan bagi orang mukmin atau orang bertaqwa. Kenapa? Ya karena ia diturunkan oleh Yang Maha Pencipta. Diturunkan Allah kepada seorang laki-laki yang tidak pernah bohong sepanjang hidupnya. Seorang lelaki yang tepercaya. Di samping juga Al-Qur’an ini tidak ada keraguan karena para Ulama-Ulama Islam telah meneliti kalimat-kalimat Al-Qur’an itu tersusun rapi, indah sastranya dan tidak ada satu pertentangan kalimatpun di dalamnya.
Saat ini, kita juga perlu waspada terhadap adanya aliran filsafat atau pemikiran yang meragukan segala hal. Aliran relativisme atau skeptisisme. Aliran ini meragukan segala hal. Meragukan kebenaran agama Islam, kebenaran Al-Qur’an dan semua kebenaran di muka bumi ini. Aliran filsafat Barat ini membahayakan. Orang yang berpegang pada aliran ini, akhirnya bingung nggak punya pegangan, karena ia meragukan semua hal yang telah terbukti benar. Hidupnya terombang-ambing dan kasihan para pemuda kita yang diajarkan aliran filsafat ini dan tidak ditunjukkan aliran filsafat Islam yang benar.
Al-Qur’an menasihatkan,
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ
“Maka tidak ada setelah kebenaran itu selain kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?” (QS Yunus 32)






