Menyoal Narasi ‘Kuliah itu Scam’
Tujuan Pendidikan; tujuan pertama untuk membentuk kepribadian yang Islami dari pola pikir (aqliyah) dan pola jiwa (nafsiyah) Islami, yaitu akidah, pemikiran, dan perilaku Islami kedalam akal dan jiwa anak didik, karenanya diperlukan kurikulum yang direalisasikan oleh negara. Tujuan kedua untuk mempersiapkan anak-anak agar mereka menjadi ulama-ulama yang ahli di setiap bidang kehidupan, baik dari ilmu-ilmu Islam seperti ijtihad, fiqih, peradilan, maupun ilmu-ilmu terapan seperti Teknik, kimia, fisika, kedokteran, dan lain-lain.
Metode Pendidikan Islam; metode yang disusun agar tidak menyimpang dari landasan kurikulum dan tujuan Pendidikan. Metode pengajarannya adalah dengan penyampaian (khithab) dan penerimaan pemikiran (talaqqiy) dari pengejar kepada siswa, pemikiran atau akal merupakan instrumen dalam proses belajar mengajar. Akal adalah aset utama yang Allah berikana kepada diri manusia yang keberadaannya menjadikan manusia mulia disbanding makhluk-makhluk lainnya, serta menjadi sebab dibebankannya suatu hukum (manath at-taklif).
Program Pendidikan Islam; pertama dari segi ilmu pengetahuan sains (Umiyah) yaitu untuk pengembangan akal agar manusia dapa menetapkan hukum atas perkataan, perbuatan, dan benda dilihat dari sisi fakta dan karakteristiknya, serta kesesuaiannya dengan fitrah manusia, seperti ilmu kimia, fisika, matematika, astronomi, dan ilmu terapan lainnya.
Ilmu pengetahuan ini tidak berhubungan langsung dalam pembendtukan kepribadian seseorang, yakni pola pikir dan pola sikapnya. Kedua, ilmu pengetahuan berkaitan dengan hukum syariat (syar’iyah) mengenai perkataan, perbuatan, dan benda dari sisi penjelasan hukum syara’ taklifi, yaitu mana yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Dilihat juga dari hukum syara’ wadhi’, yaitu sebab, syarat, mani’, rukhsah, ‘azimah, shahih, bathil, dan fasid. Ilmu pengetahuan ini yang membentuk pola pikir Islami (aqliyah Islamiyyah).
Sehingga pendidikan erat kaitannya dengan negara dalam merealisasikan generasi yang unggul. Islam tidak menjadikan Pendidikan sebagai alat komodtas untuk menarik keuntungan, karenanya negara hadir agar manusia memperoleh hak-hak dasar seperti rasa aman, Pendidikan, Kesehatan, dan failitas-fasilitas umum dengan mudah dan murah.
Para ahli fikih mengatakan, “Orang yang berkecukupan adalah orang yang mampu mengusahakan makanan pokok untuk dirinya berikut keluarganya sehingga tidak lagi membutuhkan makanan yang sejenis serta mampu mampu mengusahakan pakaian dan tempat tinggal mereka, termasuk kendaraan dan perhiasan yang layak.”
Generasi Hebat dalam Sistem Pendidikan Islam
Fatimah al-Fihri yang merupakan muslimah pendiri universitas pertama di dunia. Ia lahir pada 841, dan mendirikan komplek Al-Qarawiyyin pada tahun 859. Komplek ini menjadi pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan yang didalamnya juga terdapat sebuah masjid bernama Al-Qarawiyyin.
Fatima al-Fihri berhasil mendirikan perguruan tinggi tertua di dunia yang dinamakan Universitas Al-Qarawiyyin, bahkan mendahului universitas-universitas terkenal seperti Oxford University yang dibuka pada 1167, Cambridge University pada 1209, Harvard University pada 1636 dan lainnya.
Maryam al-Ijliya sang penemu astrolabe yaitu cikal bakal GPS. Mariam Al-Ijliya yang juga dikenal sebagai Mariam Al-Astrolabi adalah perempuan Muslim yang hidup pada abad ke-10 di Aleppo, Suriah, yang menjadi salah satu ilmuwan di bidang astronomi.
Sosok Mariam Al-Ijliya dikenal karena mengembangkan Astrolab, instrumen astronomi klasik yang digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan waktu, posisi matahari serta bintang.
Lubna sang pustakawan era kekhilafahan Ummayah. Lubna adalah seorang gadis asal Andalusia atau Spanyol sekarang. Sosoknya muncul di era Bani Umayyah, dan ia menjadi salah satu tokoh terpenting di Istana Ummayah di Cordoba pada abad ke-10.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai pustakawan, Lubna bertanggung jawab untuk memperoleh buku perpustakaan sehingga dia pun pernah melakukan perjalanan ke Kairo, Damaskus, dan Baghdad.
Dalam berjuang sebagai pustakawan kekhalifahan, Lubna berhasil mendapatkan koleksi buku hingga lebih dari 500 ribu eksemplar. Selama berabad-abad, perpustakaan yang dipimpin Lubna ini adalah yang terbesar di Eropa dan hanya bisa dikalahkan oleh perpustakaan di Baghdad.






