Merasa ‘Overthinking’? Zikrullah Solusinya
Oleh: Mukhlis Abdurrahman*
Fenomena overthinking semakin banyak dialami oleh berbagai generasi, khususnya generasi Z, di tengah tekanan akademik, tuntunan sosial, kesulitan mendapatkan pekerjaan dan kecemasan akan masa depan karna kemajuan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI).
Overthinking atau pemikiran berlebihan dapat mengganggu produktivitas dan mental seseorang, sehingga ia akan merasakan individu yang tertekan, takut gagal dan kehilangan makna hidup.
Dalam perspektif Islam, permasalahan overthinking yang mengakibatkan krisis kesehatan mental tidak hanya dipandang sebagai gangguan psikologis, tetapi juga berkaitan erat dengan lemahnya spiritual yang kerap diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an dan Kesehatan Mental
Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap kesehatan mental melalui penyucian hati (tazkiyatun nafs), zikir, mentadaburi Al-Qur’an serta shalawat kepada sang pencipta yang dapat menjadikan hati tentram sehingga tercapainya kesehatan mental yang utuh.
Sebagaimana dalam firman Allah QS. Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan batin sejati bersumber dari kedekatan spiritual dengan Allah, bukan semata-mata dari pencapaian akademik, karier, atau materi duniawi.
Menurut Tafsir al-Qurthubi, ketenangan, ketentraman serta kenyamanan hati bisa dirasakan hanya dengan mengingat Allah. Imam Qatadah sahabat Nabi berkata: “Mereka adalah orang-orang yang senantiasa tenteram hatinya dengan mengingat Allah melalui ucapan lisan mereka.” Beliau juga menafsirkan “mengingat Allah” di sini adalah Al-Qur’an.
Ibnu ‘Abbas ra. berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan sumpah. Apabila lawannya bersumpah dengan nama Allah, maka tenanglah hatinya (karena yakin akan kebenarannya).” Ada juga yang menafsirkan: “Dengan mengingat Allah” maksudnya adalah dengan menaati Allah, mengingat pahala Allah, atau dengan mengingat janji-janji Allah, maka hati akan merasa tentram. (Al-Qurthubi, Al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, 1964: 9, 315).
Ibnu Katsir menafsirkan, hati orang-orang mukmin akan merasa tenang, damai, dan bersandar kepada Allah. Mereka merasa tenteram ketika mengingat Allah, serta ridha menjadikannya sebagai pelindung dan penolong. (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, 1998: 4, 391).
Dalam Tafsir al-Munir, Wahbah az-Zuhayli menafsirkan bahwa orang-orang yang membenarkan (beriman) Allah dan rasul-rasulnya, hati mereka akan menjadi tenang dalam keesaan Allah dan janji-janjinya.
Mereka (orang-orang yang beriman) merasa nyaman dengan kedekatan kepada Allah. Dengan mengingat Allah, merenungkan ayat-ayatnya, serta mengenal kesempurnaan kekuasaannya dengan mata hati (bashirah), hati orang-orang beriman menjadi tenteram. Kegelisahan dan kebingungan lenyap dari mereka karena cahaya iman telah mengisi hati mereka.
Sebagaimana firman Allah dalam surah Az-Zumar ayat 23:
ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلى ذِكْرِ اللهِ
“Kemudian, kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika mengingat Allah.”
Seorang mukmin ketika mengingat azab Allah, maka ia akan takut. Namun, ketika seorang mukmin mengingat janji Allah tentang pahala dan rahmat-Nya, maka hatinya menjadi tenang dan jiwanya merasa damai. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Anfal ayat 2:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُهُ، زادَتْهُمْ إِيماناً
وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ.
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.
Bukan Masalah Psikologi Semata
Fenomena overthinking yang banyak dialami generasi Z bukan hanya masalah psikologis, tetapi juga berkaitan erat dengan lemahnya dalam sisi spiritual.
Al-Qur’an melalui QS. Ar-Ra’d ayat 28 memberikan solusi yang mendalam: ketenangan batin sejati hanya dapat diperoleh dengan mengingat Allah (zikrullah).
Para ulama tafsir seperti Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, dan Wahbah az-Zuhayli sepakat bahwa ketentraman hati muncul ketika seseorang senantiasa mengingat Allah, merenungkan kebesaran-Nya, dan meyakini janji-janji-Nya. Zikir tidak sekadar ucapan lisan, tetapi juga kesadaran spiritual yang menumbuhkan rasa dekat dan berserah diri kepada-Nya.
Dengan demikian, zikrullah dapat menjadi bentuk terapi spiritual yang efektif dalam menghadapi overthinking dan tekanan hidup modern. Ketika hati terhubung dengan Allah, kegelisahan berkurang, pikiran menjadi lebih jernih, dan jiwa memperoleh kedamaian yang sejati.[]
*Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta






