SIRAH NABAWIYAH

Muawiyah: Antara Thymos dan Hilmnya

Thymos, sebuah hasrat untuk diakui dan memperoleh pengakuan. Gairah seperti ini yang menggelorakan dinamika sejarah manusia. Tak terkecuali sejarah Islam. Benar bahwasanya sejarah Islam ‘idealnya’ identik dengan li’ilai kalimatillah, tapi secara aspek lahiriah dan kauniyahnya, Laa Ilaaha illa Allah baru diakui ketika ada kekuatan zhohir, keperkasaan yang nampak, kekuasaan de facto dan de jure. Bukan hanya sekedar gagasan, wacana dan cita-cita luhur belaka.

Oya, ngomong-ngomong, yang terakhir tadi, telah dialami oleh manusia Muslim di abad 20 sampai abad 21 Masehi ini. Cita-cita idealnya banyak. Segerobak. Tapi belum satu pun bisa dizhohirkan, diwujudkan. Aktivis Muslim tetap menjaga mimpinya, kendati lebih mirip lamunan.

Hanya takdir Allah sajalah yang bisa menjadikan umat yang melempem ini kembali dipandang oleh peradaban-peradaban dunia yang lebih perkasa. Di tengah ributnya adikuasa Rusia dengan adiknya, Ukraina, yang konon ‘sang adik’ ingin meneteksusu ke adidaya lain, Amerika Serikat, dan gerombolannya di NATO.

Sementara itu negeri-negeri Muslim hanya sibuk menonton dari sudut balkon murahan, saat tuan-tuan peradaban dunia saat ini sedang pentas perang militer, politik dan ekonomi.

Di tengah riuh perang dalam berbagai aspek itu, sayup-sayup terdengar, sebagian masyarakat Muslim mendukung “tuan Putin”, dan dengan serampangan menafsirkan Rusia sebagai bangsa Romawi yang dijanjikan bersekutu dengan Muslim di akhir zaman. Tolong jangan terkejut, ini memang hobbynya sebagian Muslim zaman now.

Wacana model begini kerap terjadi di peradaban lemah, peradaban yang kini sedang jadi pemandu sorak belaka. Dengan berat hati penulis menyatakan peradaban pemandu sorak itu ialah Peradaban Islam saat ini. Yah, mau bagaimana lagi…

Itu tak terjadi kala Islam berjaya dahulu kala. Apalagi saat Muawiyah di awal-awal kekuasaannya. Tulisan ini bukan ngomong tentang Rusia, tapi ngomong tentang Muawiyah.

Dalam menjalankan kekuasaannya, Muawiyah digerakkan oleh hasrat, yang oleh filsuf Yunani klasik, Plato, disebut thymos. Hasrat untuk diakui yang menjadi turbin penggerak setiap bangsa untuk diakui bangsa lainnya. Apa pun akan dilakukan demi pengakuan, demi kejayaan demi kedaulatan. Hasrat akan pengakuan itulah yang mendorong Muawiyah bin Abi Sufyan (khalifah keenam dalam sejarah Islam dan pendiri Kekhalifahan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus), untuk menampilkan Islam di puncak pentas peradaban.

Beliau pribadi yang berwibawa, Umar bin Khaththab telah menjulukinya “Kaisar Arab” saat mudanya, padahal Muawiyah masih menjabat gubernur kala itu. Sedangkan Rasulullah SAW sendiri pernah mendoakannya “Hai Muawiyah apabila kamu kelak menjadi pemimpin, maka berbuat baiklah”.

Belakangan Muawiyah mengakui bahwa memang ia punya hasrat menjadi khalifah. Itu pun karena didorong sabda futuristik baginda Nabi. Sah-sah saja donk, karena pria berjuluk “Paman Kaum Muslimin” ini memang pantas.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button