Mukmin Kuat Bukan Ototnya Besar, tetapi Imannya yang Kokoh
Iman yang kokoh harus senantiasa disertai dengan fondasi ilmu yang kuat pula. Mengaji selama lima belas menit setiap hari jauh lebih baik daripada berceramah dua jam dengan isi yang tidak berdasar.
Keempat, seorang mukmin tidak boleh memiliki mental yang minder. Rasa minder terhadap gelar, harta, atau popularitas orang lain merupakan salah satu penyakit hati.
Padahal, kemuliaan sejati seorang hamba hanya ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Janganlah kamu bersikap lemah and janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang beriman.” (QS Ali Imran: 139).
Umar bin Khattab dahulu hanyalah seorang biasa, tetapi jiwanya tumbuh seteguh raja. Begitu pula dengan Abu Dzar al-Gifari yang hidup miskin, tetapi berani berbicara di hadapan khalifah tanpa rasa gentar sedikit pun.
Mereka berani karena sadar bahwa dirinya adalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika Allah selalu bersama kita, lalu kepada siapa lagi kita harus merasa minder?
Kelima, seorang mukmin harus selalu berpikir jauh ke depan untuk masa depannya. Mukmin yang lemah hanya memikirkan gaji untuk menyambung hidup esok hari.
Sementara itu, mukmin yang kuat akan sibuk memikirkan bekal untuk di alam kubur dan akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS Al-Hasyr: 18).
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa frasa hari esok dalam ayat tersebut merujuk pada hari kiamat. Menabung untuk memenuhi kebutuhan dunia memang penting, tetapi menabung pahala jauh lebih utama.
Berinvestasi tanah itu baik, akan tetapi berinvestasi pada anak saleh serta ilmu bermanfaat adalah aset akhirat yang tidak akan terkena penggusuran. Allah tidak menuntut kita untuk menjadi manusia yang sepenuhnya sempurna tanpa cela.
Namun, Allah menuntut kita untuk menjadi seorang mukmin yang kuat dalam segala sisi. Kuat dalam bekerja berarti produktif, sedangkan kuat dalam batin berarti kaya akan doa.
Kuat dalam pikiran berarti berilmu, sementara kuat dalam mental berarti tidak mudah minder. Terakhir, kuat dalam visi berarti orientasi utamanya adalah memikirkan kehidupan akhirat.
Kelima kunci ini memang tidak akan serta-merta menjadikan kita sehebat Umar bin Khattab. Namun, kelima kunci ini akan menghindarkan kita dari menjadi mukmin sebatas kartu tanda penduduk yang mudah runtuh karena ujian kecil. Wallahu a’lam bish-shawab.[]






