OASE

Mukmin Kuat Bukan Ototnya Besar, tetapi Imannya yang Kokoh

Oleh: Imam Nur Suharno, Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR Muslim).

Kata “kuat” dalam hadis ini bukan merujuk pada kekuatan fisik semata. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan iman, kekuatan mental, dan kekuatan kontribusi untuk umat.

Sementara itu, mukmin yang lemah adalah pribadi yang mudah mengeluh, mudah menyerah, dan mudah terombang-ambing oleh arus zaman. Oleh karena itu, agar menjadi mukmin yang kuat, peganglah lima kunci berikut ini.

Pertama, menjadi manusia produktif dan bermanfaat. Mukmin yang lemah biasanya banyak tidur dan bermalas-malasan.

Di sisi lain, mukmin yang kuat tangannya bekerja, akalnya berpikir, dan hatinya berniat ibadah. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.” (HR Bukhari).

Kelemahan dan kemalasan adalah dua penyakit kronis yang menghambat kemajuan dunia serta akhirat. Seseorang yang salat lima waktunya terjaga tetapi sepanjang hari hanya menghabiskan waktu untuk bermain gadget tanpa produktivitas sama sekali, termasuk dalam kategori lemah.

Mukmin yang kuat adalah mereka yang subuh di masjid, siang menghasilkan karya, sore membantu sesama, dan malam hari melakukan muhasabah. Kedua, mukmin yang kuat harus banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Otot manusia dapat mengecil, harta dapat habis, dan relasi sosial pun dapat terputus seketika. Namun, doa adalah sambungan langsung kepada Allah yang Mahakuat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu.” (QS Ghafir: 60).

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sendiri adalah pribadi yang paling banyak berdoa padahal dosa-dosa beliau telah diampuni.

Mukmin yang lemah biasanya hanya berdoa ketika mereka berada dalam kondisi terdesak. Sebaliknya, mukmin yang kuat akan berdoa sebelum berusaha, saat berusaha, dan setelah berusaha.

Doa bagi mereka bukan sekadar rencana cadangan, melainkan bahan bakar utama dalam setiap sendi kehidupan. Ketiga, setiap mukmin harus berbekal ilmu pengetahuan yang luas.

Bergerak tanpa tuntunan ilmu sama saja dengan tindakan nekat yang membabi buta. Berdakwah tanpa ilmu ataupun berbisnis tanpa memahami syariat halal dan haram akan membuat seseorang mudah tersesat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah: 11).

Pada era yang penuh dengan fitnah seperti sekarang ini, mukmin tanpa ilmu bagaikan kambing di tengah kawanan serigala.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button