Otak Butuh Stimulasi Sosial, Kesepian Kronis Bisa Picu Demensia
Jakarta (Suaraislam.id) – Kesepian sering dipandang sebagai tantangan emosional semata. Namun, dampaknya dapat melampaui kesejahteraan mental.
Kesepian kronis dan isolasi sosial secara nyata dapat memengaruhi kesehatan otak. Kondisi ini berdampak buruk pada memori, fungsi kognitif, serta kondisi neurologis jangka panjang.
Sebagaimana dikutip dalam siaran Hindustan Times pada Kamis (25/6), dokter Kunal Bahrani, Ketua Grup Neurologi Rumah Sakit Yatharth di India, menyampaikan peran penting koneksi sosial bagi kesehatan otak.
Ia mengatakan bahwa interaksi sosial teratur membantu merangsang kognisi. Hal ini juga membantu mengatur emosi dan menjaga respons stres yang sehat.
“Ketika seseorang mengalami kesepian yang berkepanjangan, otak dapat tetap dalam keadaan kewaspadaan tinggi, yang menyebabkan peningkatan kadar hormon stres seperti kortisol,” katanya.
“Seiring waktu, ini dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, memori, dan suasana hati,” ia menambahkan.
Sejumlah penelitian telah menghubungkan kesepian kronis dengan perubahan di area otak yang bertanggung jawab atas emosi, pembelajaran, dan pengambilan keputusan.
Kurangnya interaksi sosial juga dapat membatasi stimulasi mental yang dibutuhkan untuk mempertahankan fleksibilitas dan ketahanan kognitif seiring bertambahnya usia.
“Hubungan sosial bagi otak sama pentingnya dengan olahraga bagi tubuh,” kata Dr. Bahrani.
“Percakapan, pengalaman bersama, dan hubungan terus menerus mengaktifkan berbagai jaringan kognitif. Ketika interaksi tersebut berkurang, otak menerima lebih sedikit stimulasi,” ia menambahkan.
Ahli neurologi dari Apollo Speciality Hospitals di Chennai, Dr. Sreenivas UM, mengatakan bahwa penelitian baru menunjukkan kaitan kesepian dengan faktor risiko demensia.
“Studi-studi terbaru menunjukkan bahwa kesepian dapat menghasilkan perubahan struktural di otak, khususnya di wilayah yang terlibat dalam memori, penalaran, berpikir, dan pengambilan keputusan,” katanya.
Menurut dia, isolasi sosial juga dapat memperburuk gejala, menunda pemulihan, dan meningkatkan risiko kambuh pada orang dengan kondisi neurologis. Kondisi neurologis tersebut meliputi stroke, epilepsi, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, atau demensia.






