#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

NATO Menolak Trump

Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate.

Donald Trump kembali menunjukkan gaya kepemimpinannya yang kontroversial. Di tengah perang Iran yang memasuki minggu ketiga, ia menyerang sekutu-sekutu tradisional Amerika karena menolak mengirim kapal perang untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.

“Mereka membuat kesalahan yang sangat bodoh,” kata Trump di Kantor Oval, Selasa (17/3/2026), seperti dilaporkan The Guardian.

Paradoks ‘America First’

Selama bertahun-tahun Trump mengkritik negara-negara NATO karena tidak membayar iuran mereka. Ia kerap menyebut sekutu-sekutu Eropa sebagai ‘penumpang gratis’ yang menikmati perlindungan Amerika tanpa berkontribusi yang cukup. Retorika ini menjadi ciri khas kampanye ‘America First’ yang ia usung sejak pertama kali mencalonkan diri sebagai presiden. Baginya, sekutu harus membayar atau ditinggalkan.

Namun kini, ketika perang Iran benar-benar meletus dan AS membutuhkan bantuan untuk membuka kembali Selat Hormuz, sekutu-sekutu itu justru memilih menjauh. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dengan tegas mengatakan Inggris tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas. Negara-negara Eropa lain juga enggan mengirim kapal perang, apalagi bergabung dalam koalisi militer. Trump yang biasanya lantang, kali ini hanya bisa melontarkan kritik pedas.

Ironisnya, retorika ‘America First’ yang selama ini ia kampanyekan justru berujung pada ‘America Alone’ ketika bantuan paling diperlukan. Trump membalas kekecewaannya dengan mengatakan hubungan dengan Inggris baik-baik saja sebelum Starmer menjabat. Namun ia lupa bahwa diplomasi bukan soal siapa yang duduk di kursi kekuasaan, melainkan tentang kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun. Dan kepercayaan itu, di era Trump, terkikis sedikit demi sedikit.

Jurang Pemahaman dengan Sekutu

Trump kecewa karena Starmer meminta untuk ‘bertanya kepada tim saya’ sebelum berkomitmen pada aksi militer. Bagi Trump, respons ini menunjukkan kelemahan dan ketidakmampuan mengambil keputusan tegas. Ia terbiasa dengan kekuasaan eksekutif yang absolut, di mana perintah langsung dijalankan tanpa pertanyaan. Dalam logika bisnis yang ia anut, seorang CEO berkata dan staf menjalankan.

Padahal, itulah cara kerja sekutu demokratis, yaitu harus konsultasi, pertimbangan matang, dan akhirnya adalah keputusan kolektif. Di Inggris, keputusan untuk berperang tidak bisa diambil oleh perdana menteri seorang diri. Ada parlemen yang harus diajak bicara, ada publik yang pendapatnya perlu didengar, dan ada sekutu lain yang posisinya perlu dipertimbangkan. Starmer meminta waktu bukan karena lemah, tetapi karena ia memahami kompleksitas politik domestik dan internasional.

Jurang pemahaman ini memperlihatkan betapa Trump gagal memahami bagaimana aliansi seharusnya berfungsi. Aliansi bukanlah hubungan majikan-buruh, melainkan kemitraan yang dibangun di atas rasa saling percaya dan saling menghormati. Ketika Trump memperlakukan sekutu sebagai bawahan, ia sebenarnya sedang menghancurkan fondasi aliansi itu sendiri. Dan ketika fondasi runtuh, tak ada lagi yang bisa diandalkan di saat krisis.

Isolasi di Tengah Kebutuhan

Di tengah kritik internal dan eksternal, Trump tetap percaya diri. Ia mengklaim bahwa AS memiliki keberhasilan militer dan tidak takut pada kemungkinan operasi darat. “Saya tidak takut pada apa pun,” katanya ketika ditanya soal risiko seperti Vietnam. Ia bahkan menyebut bahwa AS tidak pernah benar-benar membutuhkan bantuan NATO, seolah isolasi adalah pilihan sadar, bukan konsekuensi dari kebijakannya sendiri.

Namun realitas menunjukkan isolasi yang meluas. NATO dan sekutu tradisional AS memilih menjauh. Jepang, Australia, dan Korea Selatan juga menolak mengirim kapal perang meskipun Trump menyebut mereka dalam unggahan Truth Social-nya.

Di dalam negeri, harga minyak melonjak di atas $100 (sekitar Rp 1.688.000) per barel, dan mengancam stabilitas ekonomi. Dan yang lebih memprihatinkan, pejabat tinggi dalam dunia anti-teror seperti Joe Kent mengundurkan diri sambil menuduh ‘perang ini didasarkan pada kebohongan dan tekanan dari Israel,’ sebuah narasi yang terang-terangan melekatkan pengaruh Israel yang kuat terhadap AS untuk menyerang Iran.

Dalam peristiwa di atas, terlihat bahwa saat ini slogan ‘America First’ berubah menjadi ‘America Alone.’ Trump boleh saja berkata bahwa AS tidak butuh bantuan, tetapi fakta berbicara lain: kapal perang AS harus bekerja lebih keras, anggaran pertahanan terus membengkak, dan nyawa prajurit Amerika terus berjatuhan di medan perang yang tidak didukung sekutu. Isolasi ini sebenarnya bukan tanda kekuatan, melainkan gejala keruntuhan kepemimpinan global Amerika.[]

Back to top button