#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Trump di Persimpangan Perang

Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate.

“If Iran doesn’t FULLY OPEN, WITHOUT THREAT, the Strait of Hormuz, within 48 HOURS from this exact point in time, the United States of America will hit and obliterate their various POWER PLANTS, STARTING WITH THE BIGGEST ONE FIRST.”

(Jika Iran tidak MEMBUKA SEPENUHNYA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz, dalam waktu 48 JAM dari saat ini, Amerika Serikat akan menghantam dan menghancurkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka, DIMULAI DARI YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU).

Ancaman penghancuran pembangkit listrik Iran tersebut ditulis Presiden Donald Trump di Truth Social pada 22 Maret 2026. Kita melihat ancaman tersebut lebih dari sekadar ultimatum 48 jam. Trump sesungguhnya sedang mempertaruhkan kredibilitas kepemimpinannya di hadapan Iran, sekutu, dan rakyatnya sendiri.

Laporan Anthony Zurcher dari BBC pada hari yang sama menggambarkan kebingungan yang melingkupi Gedung Putih bahwa perang diklaim “hampir selesai”, namun ribuan pasukan baru justru dikerahkan ke kawasan. Sementara itu, Al Jazeera melaporkan respons balasan Iran yang tak kalah keras—ancaman simetris terhadap seluruh infrastruktur energi AS di Timur Tengah.

‘Ultimatum Kegagalan’

Ultimatum 48 jam yang dilontarkan Trump tersebut justru menjadi pengakuan terbuka bahwa klaim-klaim sebelumnya tentang keberhasilan perang tidak berdasar. Sehari sebelumnya, Trump menyatakan perang “mulai mereda” dan militer Iran “sudah lenyap.” Namun jika benar Iran telah lumpuh, mengapa Selat Hormuz—yang menjadi kunci utama kemenangan—masih harus dituntut dengan ancaman perang baru? Jawabannya sederhana: “retorika kemenangan tidak pernah sejalan dengan kenyataan.”

Kontradiksi ini semakin nyata ketika militer AS sendiri mengklaim telah “melumpuhkan” kemampuan Iran menyerang kapal di Hormuz melalui pemboman fasilitas rudal pesisir. Jika klaim itu benar, maka ancaman presiden tidak lebih dari teater politik untuk menutupi fakta bahwa tekanan militer selama tiga pekan gagal memaksa Iran menyerah. Ultimatum yang dramatis justru menunjukkan bahwa Gedung Putih kehilangan kendali atas narasi perang yang mulai membebani reputasi kepemimpinannya.

Ultimatum ini memperlihatkan ketidaksinkronan antara komando militer dan kepemimpinan politik. Ketika jenderal-jenderal AS berbicara tentang keberhasilan taktis, Trump justru mengeluarkan ancaman yang mengisyaratkan sebaliknya. Ini bukan tanda koordinasi yang matang, melainkan indikasi bahwa Gedung Putih dan Pentagon berada di jalur yang berbeda—satu berusaha keluar dari perang, yang lain terpaksa terus menggali lubang yang semakin dalam.

Ultimatum 48 jam bukanlah senjata politik yang cerdas, melainkan alat pengalih perhatian dari kegagalan mencapai tujuan perang yang telah digembar-gemborkan. Trump membutuhkan Hormuz terbuka bukan karena kemenangan sudah di depan mata, tetapi karena tekanan domestik dari melonjaknya harga minyak dan pasar saham yang bergejolak mulai membakar kursi kepresidenannya sendiri.

Iran Membaca Kelemahan AS

Alih-alih gentar, Iran merespons ultimatum Trump dengan ancaman yang simetris dan berbahaya: “jika pembangkit listrik Iran diserang, seluruh infrastruktur energi AS di kawasan akan menjadi sasaran.” Respons ini bukan sekadar retorika balasan. Ini adalah pembacaan yang akurat bahwa AS tidak memiliki pilihan yang baik. Iran tahu bahwa Trump berada di bawah tekanan untuk mengakhiri perang, bukan memperluasnya, sehingga ancaman balasan yang simetris menjadi tameng yang efektif.

Strategi Iran selama ini tampak konsisten bahwa Selat Hormuz terbuka untuk semua kecuali AS dan sekutunya. Pernyataan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bahwa sejumlah negara telah menghubungi Teheran untuk izin pelayaran adalah taktik cerdas untuk mengisolasi AS secara diplomatik. Dengan ultimatum Trump, Iran dengan mudah membalikkan narasi: mereka tidak menutup Hormuz, merekalah yang membukanya—kecuali bagi mereka yang memilih perang. Ini adalah kemenangan framing yang membuat AS tampak sebagai pengganggu, bukan pembela kebebasan navigasi.

Lebih jauh lagi, ancaman Iran terhadap infrastruktur energi AS di kawasan menunjukkan bahwa mereka telah mengidentifikasi titik paling rentan dalam koalisi AS. Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, dan Kuwait yang menjadi basis militer AS kini berada di garis depan potensi pembalasan. Laporan tentang pencegatan rudal balistik menuju Riyadh pada hari yang sama adalah pengingat bahwa perang ini tidak akan berhenti di perbatasan Iran. Setiap serangan AS pada infrastruktur Iran akan dibayar oleh sekutu-sekutu AS di kawasan.

Iran tampak menunjukkan disiplin yang justru tidak dimiliki lawannya. Mereka tidak terjebak dalam kontradiksi retorika seperti Trump. Sementara presiden AS bergantian antara klaim kemenangan dan ancaman eskalasi, Iran konsisten dengan satu pesan: Anda menyerang kami, Anda membayar harganya—dan harganya akan dibayar oleh sekutu-sekutu Anda, bukan hanya oleh kami.

1 2Laman berikutnya
Back to top button