Parkir Liar, Negara Ikut Menepi
Wajah Kota dan Harga Martabat
Indonesia sedang memoles kota-kota besarnya: transit oriented development, ruang terbuka hijau, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Tapi wajah kota dibentuk oleh hal paling sederhana—trotoar, parkir, dan rasa aman. Kota yang membiarkan parkir liar merajalela sedang menyerahkan kedaulatan ruang publiknya, pelan-pelan.
Tegas atau Menepi
Pemerintah berada di persimpangan. Penertiban tanpa solusi sosial berisiko konflik. Pembiaran memperkuat jaringan informal. Jalan tengahnya bukan kompromi abu-abu, melainkan ketegasan yang manusiawi: penegakan hukum konsisten, integrasi pekerja parkir ke sistem resmi, pelatihan, dan alternatif kerja yang realistis.
Tanpa itu, negara akan terus menepi—memberi ruang bagi kuasa kecil di tepi jalan untuk menentukan pengalaman harian warganya.
Pada akhirnya, parkir liar adalah cermin. Ia memperlihatkan siapa yang berkuasa ketika negara ragu. Dan selama negara memilih menepi, rompi parkir akan terus berdiri di tengah jalan, mengatur republik dengan peluit pendek.[]
Muhibbullah Azfa Manik






