Pemimpin Palsu vs Pemimpin Sejati (2)
Kebijakan perangkulan politik (embracing all) yang diterapkannya didasari prinsip bahwa “satu musuh terlalu banyak”. Namun, gaya manajemen ini berimplikasi pada besarnya susunan kabinet dan beban anggaran negara.
Berdasarkan data Katadata, Kabinet Merah Putih terdiri atas 48 menteri, 57 wakil menteri, 30 wakil menteri yang merangkap komisaris BUMN, serta 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Kondisi ini menunjukkan tantangan efisiensi dalam manajemen pemerintahan. Di satu sisi anggaran pejabat pusat membengkak, sementara di sisi lain daerah dituntut melakukan efisiensi anggaran.
Sikap politik luar negeri terkait isu Palestina juga mendapat perhatian kritis. Hubungan perdagangan antara Indonesia dan Israel masih berlangsung berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 23/MPP/01/2001 yang ditandatangani Luhut Binsar Pandjaitan pada 10 Januari 2001.
Sebagaimana diberitakan Bisnis.com pada 14 April 2024, keputusan tersebut masih menjadi dasar hukum kegiatan perdagangan bilateral, meskipun nilainya kurang dari 1 persen dari total perdagangan luar negeri Indonesia.
Selama pola hidup mewah masih diperlihatkan oleh para pejabat di tengah masyarakat miskin, keadilan dan kemakmuran sulit diwujudkan. Keadilan hanya dapat dicapai apabila para pemimpin memberikan teladan hidup sederhana dan terhindar dari sifat rakus terhadap harta dunia. Wallahu ‘alimun hakim.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)
Rasulullah saw. bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi mulut anak Adam selain tanah, dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, melainkan kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh: Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






