Pemukim Ilegal Yahudi Kembali Terobos Al-Aqsa, Netanyahu Lakukan Ritual di Bawah Tembok Al-Buraq
Motif Agama atau Politik?
Israel telah melakukan penggalian di bawah Yerusalem Timur yang diduduki selama bertahun-tahun, sebuah langkah yang telah dikecam oleh para arkeolog dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pekerjaan tersebut diklaim bertujuan untuk menemukan bukti tembok benteng Bait Kedua, namun para ahli menyatakan tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut. Pihak lain menilai tindakan ini sebagai upaya Israel untuk memperkokoh kekuasaannya atas tanah Palestina yang diduduki.
Pada 2022, Netanyahu memimpin rapat kabinet di dalam terowongan tersebut dan menggambarkan Israel sebagai pemilik Yerusalem. Yerusalem Timur sendiri telah ditetapkan sebagai ibu kota negara Palestina masa depan oleh rakyat Palestina.
Waktu kunjungan pada Sabtu tersebut tidak hanya bertepatan dengan malam Yom Kippur, tetapi juga terjadi pada momen politik penting bagi pemimpin Israel itu, yang tertinggal dalam jajak pendapat melawan saingannya, Gadi Eisenkot, pemimpin partai Yashar.
Analis politik yang mengkhususkan diri dalam urusan Timur Tengah dan konflik Arab-Israel, Ahmed al-Hila, menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa Netanyahu menggunakan simbolisme agama untuk mengamankan kelangsungan politiknya menjelang pemilu secara umum pada Oktober.
“Benjamin Netanyahu ingin, melalui kunjungan ini, menciptakan simbolisme bagi dirinya sebagai pemimpin yang memelopori sayap kanan untuk mengonsolidasikan narasi politik dan keagamaan Israel di Masjid Al-Aqsa, guna mengumpulkan sebanyak mungkin suara sebagai pengungkit elektoral,” kata Al-Hila.
“Mengenai mobilisasi keamanan yang ketat dan kemunculan Benjamin Netanyahu di balik pelindung kaca tahan peluru, ini adalah indikasi langsung bahwa kota ini, hingga saat ini, belum tunduk pada kontrol keamanan Israel, meskipun ada klaim berulang kali bahwa Yerusalem adalah ‘ibu kota Negara Israel’.”
Kunjungan tersebut juga bisa menjadi pesan kepada dunia luar, di tengah kritik global terhadap proyek pemukiman ilegal E1 yang kontroversial. Pemerintah Israel telah mengeluarkan tender untuk proyek yang dirancang untuk memutus Yerusalem Timur dari Tepi Barat yang diduduki.
“Apa yang semakin mempertegas kesimpulan ini adalah bahwa memprakarsai proyek pemukiman yang disebut E1 tidak hanya memisahkan Tepi Barat bagian utara dari bagian selatannya, tetapi proyek pemukiman ini juga melengkapi isolasi kota Yerusalem dari lingkungan Palestinanya,” kata Al-Hila. “Oleh karena itu, kunjungan dengan simbolisme politik ini mengonfirmasi gagasan kedaulatan Israel atas kota Yerusalem.” [Mohammad Mansour]
Sumber: Aljazeera.com






