Menyelami Hakikat dan Makna Cinta dalam Perspektif Imam Al-Bushiri
Oleh: Muhammad Raihan Majid, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Apa itu cinta dan bagaimana cinta bekerja? Pertanyaan dasar ini menjadi alasan utama pembahasan tentang cinta ditulis. Membahas cinta sejatinya membicarakan kompleksitas yang tidak pernah final. Makna cinta sangat bergantung pada siapa yang mencintai, apa objek yang dicintai, serta apa yang terlahir dari manifestasi cinta itu sendiri.
Tulisan ini mengarungi pembahasan tentang cinta melalui perspektif tokoh ulama Islam terkemuka, Syekh Imam Al-Bushiri.
Imam Al-Bushiri dan Kedalaman Cinta
Imam Al-Bushiri merupakan nama yang tidak asing lagi bagi umat Islam di seluruh dunia. Beliau adalah penyair ulung yang menciptakan karya masterpiece bertajuk Qasidah Burdah. Kitab tersebut berisi syair-syair cinta serta bait pujian indah yang menggambarkan kedekatan spiritual sang pengarang dengan kekasihnya, Nabi Muhammad saw.
Mendefinisikan cinta tidak sesederhana bayangan akal pikiran. Diperlukan kejernihan, kejujuran, dan ketulusan jiwa untuk mencapai dimensi cinta sejati. Cinta tidak sempit hanya sebatas titik romansa antara sepasang pria dan wanita. Cinta mencakup hal yang jauh lebih luas dari itu.
Cinta memiliki beberapa tingkatan yang berawal dari kecondongan hati terhadap sesuatu. Apabila seorang pencinta senantiasa menapaki jalan cintanya, kecondongan tersebut akan menguat hingga mencapai derajat yang lebih tinggi. Kondisi ini membuat segala hal yang berkaitan dengan objek cinta turut dicintai, hingga keduanya berada pada tahap saling bertautan.
Ketika manusia berada pada tingkat keterikatan tersebut, mereka akan mengalami keadaan lupa diri, kerinduan yang mendalam, serta rasa syukur yang murni. Kondisi ini menunjukkan bahwa cinta mampu memengaruhi pencinta secara utuh hingga mengalihkan kesadarannya dari hal lain selain objek cintanya.
Hikmah Kekuatan Cinta
Bagaimana sebuah cinta dapat memiliki kekuatan yang sangat dahsyat? Ketika seseorang berada dalam kondisi mencintai, kekuatan cintalah yang bekerja sepenuhnya. Hikmah ini dapat dipetik dari Qasidah Burdah karya Syekh Imam Al-Bushiri ketika beliau mengalami kerinduan yang sangat kuat kepada Nabi Muhammad saw.
Melalui syair-syairnya, Syekh Imam Al-Bushiri menggambarkan kekuatan cinta tersebut. Karya beliau terdiri dari sepuluh bagian, dan pada bagian pertamalah beliau mencurahkan perasaan cintanya kepada Nabi Muhammad saw.
Kecintaan Syekh Imam Al-Bushiri kepada Nabi Muhammad saw. menghadirkan kegelisahan dan kerinduan yang tidak terbendung. Beliau mengutarakannya dalam bait syair berikut:
فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبًّا بَعْدَ مَا شَهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ
وَأَثْبَتَ الْوَجْــدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَـنًى ۞ مِثْلَ الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَـــمِ
نَعَــمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرَّقَنِيْ ۞ وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتِ بِالْأَلَــمِ
Bait di atas merupakan ungkapan kenestapaan duka Syekh Imam Al-Bushiri atas kerinduan kepada Nabi Muhammad saw., hingga isak tangisnya meninggalkan bekas garis di kedua pipi. Ketulusan jiwa yang digambarkan beliau mengajarkan bagaimana seseorang dapat mencapai kemurnian cinta.
Dalam penggalan bait lain, beliau menyatakan:
إِنَّ الْمُحِبَّ عَنِ الْعُـــذَّالِ فِيْ صَمَـــمِ
“Sesungguhnya orang yang dimabuk cinta itu tuli dan tidak menggubris cacian para pencela.”






