Generasi Sekuler, Kesepian dalam Keramaian
Oleh: Agung Ratna (Aktivis Muslimah Peduli Umat)
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia semakin mudah terhubung. Telepon pintar dan media sosial memungkinkan komunikasi serta pertemanan melampaui batas wilayah.
Namun, terdapat paradoks yang semakin nyata. Semakin mudah manusia terhubung, semakin banyak pula yang merasa sendirian.
Fenomena ini patut menjadi perhatian serius ketika menyentuh generasi muda. Pada September 2026, sejumlah kasus yang diduga berkaitan dengan bunuh diri kembali menjadi sorotan publik.
Kasus-kasus tersebut tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan individu. Di baliknya terdapat pertanyaan yang jauh lebih besar mengenai alasan semakin banyaknya manusia modern yang mengalami tekanan, kesepian, dan kehilangan harapan.
Krisis Generasi Muda
Kementerian Kesehatan mengakui bahwa persoalan kesehatan jiwa dapat dialami siapa saja dan sering kali tidak tampak secara kasat mata. Masyarakat didorong untuk lebih peka terhadap perubahan kondisi orang-orang di sekitarnya.
Pemerintah juga menyediakan Healing119 sebagai layanan dukungan psikologis awal bagi masyarakat yang mengalami tekanan emosional. Layanan tersebut membantu menghubungkan seseorang dengan tenaga profesional apabila diperlukan.
Fakta perlunya layanan khusus ini menunjukkan bahwa krisis kesehatan mental tidak bisa direduksi sekadar persoalan “kurang kuat” pada diri seseorang. Terdapat problem yang lebih luas dalam lingkungan sosial masyarakat.
Ketika Akidah Dipisahkan dari Kehidupan
Dalam pandangan Islam, manusia bukan sekadar makhluk biologis yang mengejar kenyamanan hidup. Manusia adalah hamba Allah Swt. yang memiliki tujuan penciptaan.
Allah Swt. berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Az-Zariyat [51]: 56).
Ketika agama dipisahkan dari kehidupan publik dan persoalan manusia diselesaikan hanya berdasarkan pertimbangan material, manusia kehilangan arah tujuan hidup. Inilah problem mendasar dari sekularisme.
Sekularisme menempatkan agama sebagai urusan privat, sementara pengaturan masyarakat disandarkan pada akal manusia yang terlepas dari wahyu. Akibatnya, standar keberhasilan bergeser pada hal-hal material seperti materi, karier, popularitas, dan status sosial.