Pendekatan Luhut ke BlackRock Legitimasi Genosida di Gaza
Oleh karena itu, persoalan ini bukan sekadar perdebatan mengenai kebutuhan investasi semata. Ini adalah sebuah perdebatan mendasar mengenai bentuk keterlibatan dalam kejahatan kemanusiaan.
Indonesia tidak bisa secara bersamaan mengutuk genosida di Gaza, sementara di sisi lain aktif mencari hubungan yang lebih dekat dengan institusi penopang kekerasan tersebut. Negara ini tidak dapat menggemakan solidaritas antikolonialisme jika masih memperlakukan investor kuat yang terkait dengan ekonomi senjata global sebagai mitra pilihan.
Indonesia juga tidak bisa terus mengklaim kepemimpinan moral atas Palestina jika turut melegitimasi aktor yang dianggap oleh warga Palestina sebagai bagian dari arsitektur ekonomi di balik penderitaan mereka. Pembelaan yang biasa dilontarkan adalah bahwa Indonesia sedang membutuhkan investasi.
Namun, Indonesia bukanlah negara putus asa yang tidak memiliki alternatif pilihan lain. Indonesia adalah kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, raksasa mineral strategis, serta negara yang kian dilirik oleh dana kekayaan negara dan investor di seluruh Teluk serta kawasan Global South yang lebih luas.
Pilihan yang dihadapi Indonesia saat ini bukanlah antara menerima BlackRock atau menghadapi keruntuhan ekonomi. Pilihan yang sebenarnya adalah antara mempertahankan prinsip atau mengorbankan prinsip tersebut demi modal.
Pernyataan Luhut mengisyaratkan bahwa sebagian dari kalangan elite Indonesia tampaknya telah menjatuhkan pilihan tersebut. Setiap upaya untuk mendekati BlackRock mengirimkan pesan bahwa akses ke keuangan global jauh lebih penting daripada solidaritas terhadap Palestina.
Setiap usaha untuk menormalisasi hubungan dengan institusi yang tertanam dalam ekonomi politik perang akan memperlemah klaim Indonesia untuk berdiri tegak bersama para korban di Gaza. Setiap pelukan publik terhadap BlackRock membuat kecaman Indonesia terhadap genosida terdengar bukan lagi sebagai keyakinan, melainkan hanya panggung teater politik.
Jika para pemimpin Indonesia benar-benar percaya bahwa genosida sedang berlangsung di Gaza, mereka seharusnya tidak melegitimasi pihak yang dianggap oleh warga Palestina sebagai penerima keuntungan dari sistem keuangan tersebut. Jika tidak, solidaritas Indonesia terhadap Palestina berisiko menjadi persis seperti apa yang lama dituduhkan oleh para kritikus.
Solidaritas tersebut akan dinilai hanya sebagai sebuah prinsip yang disuarakan secara lantang di luar negeri, tetapi diam-diam ditinggalkan ketika modal mulai ditawarkan. []
Sumber: MEMO






