INTERNASIONAL

Pendukung Yakinkan Pemilih, Mamdani Sosok Tepat untuk Wali Kota New York Saat Ini

Jelang hari pemilihan 4 November, para relawan melakukan upaya besar-besaran untuk mendukung kandidat wali kota New York City yang bersejarah.

Wood menyoroti satu isu yang paling menentukan dalam pemilu ini: dukungan terbuka Mamdani terhadap hak-hak rakyat Palestina, hal yang jarang di dunia politik arus utama AS.

“Zohran satu-satunya politisi dalam pemilu ini yang berani menyebut apa yang terjadi [di Gaza] dengan istilah yang sebenarnya: genosida,” kata Wood.

Saul mengangguk, “Itu memang genosida.”

Akhirnya Saul masih punya keraguan. Janji utama Mamdani—pembekuan sewa dan penitipan anak gratis bagi anak di bawah lima tahun—tidak langsung berdampak padanya. Tapi ia berkata siap memberi kesempatan pada visi Mamdani—dan suaranya.

“Aku merasa lebih yakin padanya,” ujarnya. “Tapi tetap saja, aku harus melihat dulu untuk benar-benar percaya.”

“Jangan remehkan lawan kita”

Menjelang akhir masa kampanye, Mamdani berusaha menjembatani keraguan publik. Jajak pendapat mulai mengetat, sementara lawannya, mantan gubernur Andrew Cuomo, secara terbuka menggandeng pemilih konservatif dan independen, memperingatkan bahwa kota akan “hancur” jika Mamdani menang.

Cuomo, yang mundur dari jabatannya pada 2021 karena tuduhan pelecehan seksual, mencemooh Mamdani sebagai ideolog yang tak realistis. Serangannya makin tajam, bahkan menyinggung sentimen Islamofobia dan xenofobia: Mamdani akan menjadi wali kota Muslim pertama, orang pertama kelahiran Afrika (Uganda), dan berdarah Asia Selatan pertama yang memimpin kota New York.

Namun Mamdani tetap pada misinya setelah kemenangan besar di pemilihan pendahuluan. Politisi berusia 34 tahun ini awalnya diperkirakan akan gagal menghadapi kerasnya politik New York, tetapi justru menang telak: 56,4% suara berbanding 43,6% untuk Cuomo.

“Kami ingin membangun kembali koalisi yang telah rapuh karena bertahun-tahun kekecewaan dan penelantaran—untuk mengembalikan Partai Demokrat ke akar perjuangan rakyat pekerja,” katanya usai menang.

Ia menunjukkan bahwa daerah-daerah yang dulu memilih Trump tahun 2024 kini mendukungnya, bukti bahwa kombinasi kebijakan progresif dan pesan tentang keterjangkauan hidup dapat menarik pemilih yang sebelumnya kecewa.

“Pesannya jelas: kita bisa memenangkan kembali pemilih yang sudah lama diabaikan—asal kita memberi mereka sesuatu untuk diperjuangkan, bukan hanya sesuatu untuk ditentang.”

Dalam beberapa bulan terakhir, Mamdani semakin menegaskan dirinya sebagai simbol gerakan progresif, bahkan dua kali mengadakan kampanye bersama Senator Bernie Sanders.

Namun ujian sesungguhnya masih di depan: pemilu umum terbuka untuk semua, termasuk 20% pemilih independen dan 11% Republikan dari total 4,7 juta pemilih terdaftar. Pemungutan suara awal yang dimulai 25 Oktober menunjukkan partisipasi rekor, terutama dari pemilih lanjut usia yang cenderung mendukung Cuomo dan kandidat Republikan Curtis Sliwa.

“Jangan pernah remehkan lawan kita,” kata Sanders dalam salah satu rapat akbar kampanye.

“Mengapa Mamdani, dan mengapa sekarang?”

Pertanyaan itu terus bergema sejak Juni: Mengapa Mamdani dianggap sosok yang tepat untuk zaman ini?

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button