INTERNASIONAL

Pendukung Yakinkan Pemilih, Mamdani Sosok Tepat untuk Wali Kota New York Saat Ini

Jelang hari pemilihan 4 November, para relawan melakukan upaya besar-besaran untuk mendukung kandidat wali kota New York City yang bersejarah.

Di sebuah taman bir bohemian di Astoria, Queens, tempat Democratic Socialists of America (DSA) menggelar nonton bareng debat kandidat, Susan Kang, dosen ilmu politik di John Jay College, mencoba menjelaskan.

Ia mengatakan kesuksesan Mamdani terjadi setelah tahun pemilu 2024 yang berat bagi Partai Demokrat, yang kehilangan kursi kepresidenan, DPR, dan Senat kepada Partai Republik.

Hal itu menelanjangi “kelemahan pesan tradisional Demokrat,” terutama soal ekonomi dan keterjangkauan hidup.

Bagi banyak pemilih muda, Cuomo dianggap simbol Partai Demokrat lama yang membosankan dan elitis.

Efek “Bernie Sanders” juga masih terasa, membawa ide-ide sosialis demokrat ke arus utama politik AS.

Namun, menurut Kang, kekuatan Mamdani lebih bersifat pribadi:

“Kalau Cuomo datang dengan gaya ‘aku akan menertibkan kota ini’, Mamdani justru menunjukkan kehangatan dan kedekatan dengan warga kota yang beragam. Ia benar-benar mencintai New York dan ingin membuat kota ini bekerja untuk semua orang,” katanya.

“Sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya”

Di South Richmond Hill, Queens, Sherry Padilla percaya bahwa Mamdani punya kemampuan unik untuk menggerakkan komunitas imigran kelas pekerja yang merasa ditinggalkan politik arus utama.

Kampanye Mamdani sangat bergantung pada jaringan relawan DSA dan komunitas seperti DRUM Beats—kelompok politik dari organisasi Desis Rising Up and Resisting.

Dalam acara phone-banking, Padilla berkata:

“Kami sering punya politisi yang datang ke komunitas kami, mengucapkan dua-tiga kata dalam bahasa kami, makan makanan kami, lalu hilang sampai pemilu berikutnya. Tapi Zohran beda—ia selalu hadir, mendukung perjuangan warga kulit hitam dan cokelat, dan berjuang bersama kami. Itu belum pernah kami lihat dari politisi lain.”

“Kami bukan seperti yang mereka bilang”

Hampir 40% warga New York City lahir di luar negeri. Para imigran kelas pekerja hidup berdampingan dengan ketimpangan ekstrem—kota ini punya lebih banyak miliarder daripada kota mana pun di dunia.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button