OPINI

Bom di Depan Rumah Zohran

Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate.

Dua remaja, Emir Balat (18) dan Ibrahim Kayumi (19), kini menghadapi dakwaan terorisme dan penggunaan senjata pemusnah massal setelah melemparkan alat peledak improvisasi dalam demonstrasi anti-Islam di luar kediaman Walikota New York Zohran Mamdani. Jaksa Agung Pamela Bondi menyebut ini sebagai “aksi terorisme terinspirasi ISIS yang bisa membunuh warga Amerika” (US Department of Justice, 9 Maret 2026).

Menurut dokumen pengadilan, Balat melemparkan alat pertama ke arah kerumunan, lalu berlari menerima alat kedua dari Kayumi sebelum menjatuhkannya di dekat petugas polisi dan melompati barikade. Keduanya ditangkap tidak lama kemudian.

Peristiwa ini menambah daftar panjang serangan terinspirasi ISIS di tahun 2026. Sejak Januari, berbagai aksi teror telah terjadi di Nigeria, Somalia, Afghanistan, hingga Brasil. Pada 4 Februari, serangan oleh kelompok afiliasi ISIS di Nigeria menewaskan sedikitnya 162 orang.

Pada 6 Februari, sebuah bom bunuh diri meledak di masjid di Islamabad, menewaskan 31 orang dan melukai lebih dari 169 lainnya. Dan kini, New York bergabung dalam daftar kelam itu—bukan sebagai target serangan dari luar, tetapi sebagai tempat lahirnya teror dari dalam negeri sendiri.

Satu hal membuat peristiwa ini lebih mencekam adalah apa yang terungkap setelah penangkapan. Di dalam mobil yang terkait dengan Balat, polisi menemukan buku catatan berisi resep pembuatan bom yang terdiri dari “TATP explosive,” “hidrogen peroksida,” “asam sulfat,” dan “aseton.”

Bahan kimia yang sama ditemukan dalam alat pertama—TATP, bahan peledak sangat mudah meledak yang dijuluki “ibu dari setan” (mother of satan). Di dalam alat itu juga ditemukan mur dan baut yang berfungsi sebagai pecahan peluru, dirancang untuk memaksimalkan jumlah korban.

Dari peristiwa di atas, kita bisa menangkap dua hal sebagai berikut.

Pertama, transformasi wajah terorisme yang ‘semakin dekat’ dengan radikalisasi melalui internet.

Balat dan Kayumi bukanlah anggota sel tidur yang dikirim dari Suriah. Mereka adalah remaja Amerika dari Pennsylvania yang teradikalisasi melalui ponsel mereka sendiri. Menurut US Department of Justice (9 Maret 2026), setelah ditangkap, Balat meminta kertas dan menulis sebagai berikut:

“All praise is due to Allah lord of all worlds! I pledge my allegiance to the Islamic State. Die in your rage yu [sic] kuffar!”

(Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam! Aku menyatakan kesetiaanku kepada Negara Islam. Matilah dalam kemarahan kalian, wahai kuffar!)

Sedangkan Kayumi mengaku menonton propaganda ISIS di ponselnya dan mengatakan tindakannya “sebagian terinspirasi” oleh kelompok itu.

1 2Laman berikutnya
Back to top button