Penyensor Pro-Israel Mulai Kehilangan Kontrol Narasi
Jurnalis, dokter, orang tua, dan warga biasa Palestina tidak lagi bergantung pada pemerintah Barat atau media arus utama untuk menceritakan kisah hidup mereka. Gambar, kesaksian, dan dokumentasi menyebar langsung dari Gaza ke jutaan ponsel di seluruh dunia.
Propaganda memiliki keterbatasan ketika masyarakat dapat menyaksikan sendiri konsekuensi dari kekuasaan tersebut. Opini publik kian mencerminkan pergeseran besar ini.
Survei Pew Research Center di 36 negara tahun ini menemukan rata-rata 67 persen responden memiliki pandangan tidak menyenangkan terhadap Israel. Di Inggris mencapai 69 persen, Jerman 73 persen, Italia 75 persen, dan Australia 79 persen. Bahkan di Amerika Serikat yang merupakan sekutu terutamanya, 60 persen responden memandang Israel secara negatif.
Di kalangan generasi muda, pergeseran ini terlihat lebih drastis. Sebanyak 74 persen warga Amerika berusia 18 hingga 34 tahun yang disurvei oleh Pew memandang Israel secara negatif, begitu pula 78 persen pemuda Inggris dan 87 persen pemuda Australia.
Hal ini menunjukkan bahwa konsekuensi atau risiko untuk menyuarakan dukungan bagi Palestina semakin menurun.
Selama bertahun-tahun, pertanyaan yang dihadapi para seniman, akademisi, dan tokoh publik yang mendukung Palestina adalah mengenai hal apa yang siap mereka korbankan dari karier dan reputasi mereka.
Tujuan dari hukuman publik tersebut adalah memberi peringatan agar ratusan orang lainnya memilih diam.
Namun, efek jera hanya bekerja ketika orang-orang merasa takut. Kali ini, mereka tidak lagi takut, dan hal itu memberikan tekanan balik kepada para penyensor.
Gelombang penolakan tersebut memaksa Sheeran untuk berbicara secara terbuka tentang Palestina. Saat konsernya di Philadelphia, ia menyebut apa yang terjadi di Gaza sebagai hal yang tidak dapat dibenarkan.
Menyuarakan Palestina mungkin masih membawa risiko profesional sebagaimana yang dialami Macklemore. Namun, para penyensor kini mendapati bahwa membungkam suara-suara pro-Palestina juga membawa konsekuensi besar.
Inilah alasan krisis narasi Israel meluas lebih jauh dari sekadar penurunan angka popularitas.
Kekuasaan lama bukan sekadar kemampuan untuk membungkam warga Palestina, melainkan kemampuan untuk menentukan cerita mana yang boleh didengar dunia. Monopoli cerita tersebut kini telah runtuh.
Mereka berhasil menyingkirkan sosok yang menyerukan Free Palestine dari panggung, tetapi seruan Free Palestine justru bergema semakin nyaring.[]
Sumber: Aljazeera.com






