Peradaban Islam, Peradaban Buku
Manuskrip-manuskrip itu menjadi bukti bahwa budaya buku di Nusantara sudah mapan jauh sebelum kolonialisme masuk. Kemudian berikutnya sekitar abad ke 16-17, muncullah para ulama dengan karya-karya kitabnya yang monumental. Seperti: Syekh Hamzah Fansuri, menulis karya tasawuf mendalam seperti Asrār al-‘Ārifīn dan Sharab al-‘Ashiqīn. Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ulama Aceh yang berpengaruh luas dan Syekh Nuruddin ar-Raniri, mufti Aceh, menulis ensiklopedia besar Bustanus Salatin dan Hidayat al-Habib. Karya-karya mereka tersebar sampai Turki, India, dan Mekah.
Pada abad 18 – 19, muncullah Syekh Abdus Shamad al-Palimbani dengan karyanya Hidayatus Salikin dan Sairus Salikin. Syekh Daud al-Fatani (Pattani) menulis lebih dari 100 kitab, termasuk fikih, tauhid, tasawuf, dan ilmu alat. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menulis Sabil al-Muhtadin yang menjadi rujukan fikih Asia Tenggara.
Pada abad 20-21, muncul para ulama seperti : Syekh Yasin al-Fadani yang dijuluki Musnid ad-Dunya. Ia memiliki sanad hadits terluas abad 20 dan menulis ratusan kitab. Buya Hamka yang menulis kitab Tafsir al-Azhar, Tasawuf Modern, Lembaga Budi dan lain-lain. Juga muncul KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Bisri Musthofa, dan ulama-ulama pesantren lainnya.
Sejarawan Barat mengakui bahwa metode riset modern, struktur universitas, katalog perpustakaan, hingga budaya literasi semuanya mengambil inspirasi dari dunia Islam. Ketika perpustakaan-perpustakaan Islam dibakar oleh Pasukan Mongol dan terjadi inkuisisi di Andalusia, buku-buku ulama Muslim telah lebih dulu disalin, diterjemahkan, dan dipelajari oleh ilmuwan Barat. Peradaban Barat modern berdiri di atas bahu raksasa yang bernama peradaban Islam.
Will Durant, sejarawan besar Amerika, penulis buku The Story of Civilization menyatakan, “Para khalifah menjadikan literatur, seni, dan sains mencapai puncak kejayaannya. Ketika Eropa masih terbenam dalam kebodohan, umat Islam telah memiliki para ilmuwan, perpustakaan, dan universitas.” Ia juga menyatakan,“peradaban Islam memelihara ilmu pengetahuan Yunani dan kemudian memperluasnya. Tanpa mereka, Renaisans tidak akan mungkin.”
George Sarton, penulis Introduction to the History of Science, menulis, “Ilmu pengetahuan modern berhutang besar kepada ilmuwan Muslim. Dari abad ke-8 hingga ke-12, mereka adalah pemimpin absolut dalam dunia sains.” Ia melanjutkan,“Tak ada peradaban lain dalam periode itu yang menandingi produktivitas dan kedalaman ilmiah umat Islam.”
Philip K Hitti, sejarawan Amerika penulis History of the Arabs, menyatakan, ”Buku menjadi industri besar dalam dunia Islam. Sementara Eropa hanya memiliki beberapa ratus buku, perpustakaan Cordoba menyimpan ratusan ribu.” Ia juga menyatakan,”Peradaban Islam bukan hanya mewarisi ilmu dunia, tetapi mengembangkannya dan mengajarkannya kepada Barat.” Wallahu alimun hakim.[]
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






