NUIM HIDAYAT

Peradaban Islam, Peradaban Buku

Sejarah peradaban manusia selalu ditandai oleh kemampuan menulis. Namun di antara peradaban-peradaban besar dunia, Islam menempati posisi yang sangat istimewa: ia melahirkan budaya buku yang masif, sistematis, dan melampaui zamannya. Dari Baghdad di era Abbasiyah, Andalusia di Barat, hingga Aceh, Jawa, dan Nusantara, umat Islam membangun tradisi literasi yang bukan hanya religius, tetapi juga ilmiah, filosofis, dan kemasyarakatan.

Peradaban Barat modern yang kita lihat hari ini—dengan universitas, perpustakaan, karya ilmiah, dan standar akademik—banyak menjiplak dan mengambil inspirasi dari infrastruktur dan budaya ilmu dunia Islam.

Ketika Daulah Abbasiyah berdiri pada abad ke-8, ia memulai revolusi intelektual terbesar dalam sejarah. Proyek raksasa bernama Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) di Baghdad bukan hanya tempat belajar, tetapi pusat penerjemahan terbesar di dunia.

Di sini ribuan buku dari Persia, India, dan Yunani diterjemahkan, ilmu-ilmu baru dirumuskan, kertas dari Tiongkok diadopsi dan diindustrikan, dan industri penerbitan berkembang tak terbendung.

Pada abad ke-10, jumlah buku yang beredar di Baghdad mencapai jutaan eksemplar, sesuatu yang tidak ditemukan di Eropa yang saat itu masih tenggelam dalam kegelapan intelektual.

Perpustakaan pribadi para ilmuwan seperti Ibn al-Nadim, al-Farabi, atau Ibn Sina kadang memiliki lebih banyak buku daripada perpustakaan kerajaan Eropa.

Ketika Cordoba berada di bawah pemerintahan Andalusia, kota itu menjadi kota paling bercahaya di Eropa. Perpustakaan Khalifah al-Hakam II memiliki lebih dari 400.000 buku. Ribuan juru salin (copyist) bekerja setiap hari. Buku-buku dari berbagai penjuru dunia Islam dikirim ke Andalusia. Di Toledo, Valencia, dan Sevilla berdiri madrasah, universitas, dan perpustakaan besar.

Sementara itu, pada periode yang sama, perpustakaan terbesar di Paris hanya memiliki 300–400 buku—selisih yang menunjukkan jauhnya jarak intelektual antara Islam dan Barat.

Peradaban Barat kemudian bangkit melalui Gerakan Penerjemahan Toledo, ketika ilmuwan Eropa menerjemahkan karya-karya ulama Muslim ke dalam Latin—mulai dari Ibn Rushd, al-Zahrawi, Ibn Sina, hingga ulama sains seperti al-Battani dan al-Khawarizmi. Di sini, Barat mengambil bukan hanya ilmu, tetapi juga metode ilmiah, sistem perpustakaan, dan etos akademik Islam.

Ini semua karena umat Islam cinta pada buku. Surat pertama Al-Qur’an yang turun tentang Iqra’, mendorong umat untuk senang membaca dan menulis. Kecintaan umat ini mendorong lahirnya ribuan karya tafsir, hadis, fikih, dan teologi, kitab kedokteran, matematika, astronomi, karya filsafat, sastra, linguistik, hingga ensiklopedia raksasa seperti al-Fihrist karya Ibn al-Nadim.

Dalam tradisi Islam, menulis adalah ibadah, penyambung ilmu, dan rekaman peradaban. Karena itu, ulama bukan hanya mengajar, tetapi juga meninggalkan karya.

Bukan hanya Baghdad dan Andalusia. Nusantara juga memiliki tradisi tulis-menulis yang panjang. Para ulama Nusantara belajar ke Haramain, Yaman, Mesir, dan lain-lain, kemudian mereka menulis karya monumental dalam bahasa Arab, Melayu, dan Jawa Pegon (Arab Jawi). Pada abad 12–13, literatur Islam mulai masuk ke Nusantara melalui Aceh, Samudera Pasai, dan Sumatera Utara. Di masa ini muncul manuskrip awal: Taj al-Salatin (abad 15–16), Hikayat Raja-raja Pasai dan naskah-naskah fikih serta tasawuf dalam aksara Jawi.

1 2Laman berikutnya
Back to top button