Perang Iran, Berakhirnya Hegemoni AS dan Munculnya Postur Imperial yang Gagal
Oleh karena itu, ketidakstabilan yang sudah ada di Timur Tengah kemungkinan akan terus berlanjut hingga keseimbangan kekuatan baru terbentuk, dan selama periode ini, Israel mungkin akan terus melakukan tindakan militer sepihak terhadap negara-negara pilihannya.
Kuartet baru kawasan
Munculnya kuartet Turkiye, Pakistan, Arab Saudi, dan Mesir selama perang Iran berpotensi melembaga dan menghadirkan keseimbangan serta tatanan kekuatan baru di kawasan. Jika dipertahankan, inisiatif ini dapat semakin mengkonkretkan keseimbangan regional baru.
Klaim kepemimpinan regional yang sebelumnya hanya bersifat retoris berpotensi menjadi kenyataan praktis melalui pelembagaan kuartet ini.
Proses perundingan panjang antara AS dan Iran ke depan akan berlanjut sebagai konflik intensitas rendah atau berkembang menjadi dinamika proksi, mirip dengan cara AS menghadapi Rusia di Ukraina, kali ini dengan China yang berpotensi menggunakan Iran sebagai proksi untuk menguras kekuatan AS di “rawa” Timur Tengah.
Tuduhan AS bahwa China memasok senjata ke Iran dapat diartikan sebagai bagian dari strategi China untuk memperpanjang konflik dan melemahkan AS.
Lebih jauh, potensi keterlibatan militer China bersama Iran menandai pergeseran dari kebijakan lamanya sebagai aktor ekonomi global melalui perdagangan dan investasi tanpa keterlibatan militer langsung. Strategi “kebangkitan damai” ini kini tampaknya mulai memberi jalan bagi peran yang lebih asertif dalam politik global.
Dengan demikian, perang Iran tidak hanya membuka “kotak Pandora” dalam politik global, menandai fase baru dalam hubungan AS-China, tetapi juga mengindikasikan era di mana keterlibatan politik dan militer China akan semakin menonjol.[]
Sumber: Anadolu






