Perang Iran, Berakhirnya Hegemoni AS dan Munculnya Postur Imperial yang Gagal
Oleh: Prof. Dr. Muharrem Eksi, Dekan Fakultas Ilmu Politik di Universitas Adnan Menderes di Turkiye.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan dikenang dalam sejarah sebagai pemimpin yang mengakhiri hegemoni Amerika dan mempercepat kemundurannya sendiri.
Keputusan AS soal Selat Hormuz justru bertentangan dengan prinsip-prinsip perdagangan bebas dan kebebasan navigasi internasional yang selama ini menjadi fondasi kekuatan Amerika itu sendiri.
Trump sebelumnya telah meninggalkan tatanan yang dibangun setelah 1945 di bawah kepemimpinan AS bersama Barat dengan menarik diri dari berbagai organisasi internasional.
Ia kemudian mulai meruntuhkan hegemoninya sendiri dengan meninggalkan kebijakan seperti pembangunan koalisi dan multilateralisme. Pada akhirnya, dengan menanggalkan legitimasi, ia mengakhiri gagasan kekuatan hegemonik itu sendiri.
Melalui perang Iran, Trump beralih ke strategi imperial, dan lewat retorika tentang membawa negara-negara kembali ke “Zaman Batu” serta menghancurkan peradaban, ia menempatkan dirinya sebagai ancaman nyata bagi keamanan internasional.
Kini Trump meruntuhkan, dengan tangannya sendiri dan dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi, tatanan internasional yang dibangun berdasarkan kepentingan AS dan Barat.
Secara historis, kebangkitan dan kejatuhan kekuatan besar berlangsung dalam jangka panjang, namun Trump mempercepat kemunduran Amerika dengan cara yang tidak terduga dan berlawanan dengan arus normal sejarah.
Postur imperial
Perang Iran merupakan titik patah sekaligus titik balik bagi AS dan tatanan internasional di bawah kepemimpinannya.
Ini menandai berakhirnya hegemoni Amerika sekaligus peralihan ke postur imperial, namun postur itu pun telah menemui batasnya. AS gagal mencapai tujuannya di Iran, menghadapi perlawanan yang tidak terduga, dan pada akhirnya kembali, melalui proses gencatan senjata, ke titik awal menyangkut Selat Hormuz.
Perang Iran tidak hanya mengungkap batas kekuatan AS, tetapi juga menyebabkan isolasinya dari sekutu dan NATO.
Dengan gencatan senjata, perang Iran kini memasuki fase perundingan panjang, sebagian besar karena Israel. Israel tidak akan menginginkan AS meninggalkan perang Iran di tengah jalan, karena dari sudut pandang Israel, ia gagal mencapai tujuannya dalam perang dan akan dibiarkan berhadapan sendiri dengan Iran yang terluka namun masih berbahaya jika AS mundur.
Iran, yang kini melemah secara kapasitas strategis dan tersingkir dari persamaan kekuatan regional, masih tetap lebih kuat dari banyak negara Teluk.






