AKIDAH

Percaya Dewi Fortuna, Syirik Tersembunyi?

Apa Itu Syirik?

Kalau kita perhatikan mengapa banyak orang yang masih tersesat pada lembah kesyirikan, penyebabnya antara lain memang mereka belum mengetahui apa itu syirik. Tanpa sadar, aktivitas atau bahkan ibadah yang dilakukan melanggar tauhid.

Untuk itu, berikut ini saya sampaikan definisi syirik menurut para ulama:

الشرك هو تسوية غير الله بالله فى شئ من خصائص الله

“Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah, dalam segala sesuatu yang menjadi kekhususan Allah.” (Ushul Iman fi Dhau’ al-Kitab wa as-Sunnah, hlm. 73 dan Risalah fi Usus al-Aqidah, hlm. 51).

Hak Khusus Allah

Berikutnya, yang perlu kita pahami adalah apa saja yang menjadi hak khusus Allah. Sehingga ketika ini diberikan kepada makhluk, maka ia berarti telah melakukan kesyirikan.

Dalam buku Ushul al-Iman (hlm. 73) disebutkan bahwa orang yang mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang Allah, akan menyimpulkan bahwa hak khusus Allah terangkum dalam tiga hal:

Pertama; dalam masalah perbuatan Allah (af’al al-Khaliq) terhadap makhluk-Nya. Seperti menciptakan, mengatur alam semesta, menguasai, mengabulkan doa, memberi rezeki, menetapkan hukum, dan lain-lain. Para ulama akidah menyebutnya sebagai hak rububiyah, ke-Maha Esa-an Allah dalam kedudukannya sebagai Rabb, yang menciptakan, mengatur, dan memiliki seluruh alam.

Karena itu, jika ada orang yang meyakini bahwa ada makhluk yang mampu menciptakan dari tidak ada menjadi ada sebagaimana Allah, berarti ia telah menyekutukan Allah dalam masalah rububiyah. Termasuk orang yang meyakini ada Dewi Fortuna yang bisa mengendalikan keberuntungan. Ini keyakinan syirik karena berarti telah menyamakan si Dewi Fortuna dengan Allah dalam salah satu perbuatan khusus milik Allah, yaitu mengatur keberuntungan.

Kedua; dalam kedudukannya sebagai Zat yang berhak untuk disembah dan diibadahi, apa pun bentuk ibadahnya. Siapa yang memberikan salah satu bentuk peribadatan kepada selain Allah, berarti ia memberikan hak khusus Allah untuk disembah kepada selain Allah. Para ulama akidah menyebutnya sebagai hak uluhiyah.

Bentuk ibadah sangat banyak, tidak hanya salat atau sujud, karena ibadah mencakup ibadah lahir maupun batin; ibadah fisik anggota badan, lisan, maupun hati, seperti berdoa, meminta pertolongan, nazar, tawakal, rasa takut yang disertai pengagungan, cinta yang disertai pengagungan, dan seterusnya.

Berdoa kepada makhluk, memohon sesuatu yang hanya mungkin dikabulkan oleh Allah, termasuk bentuk syirik besar.

Ketiga; dalam kesempurnaan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah, seperti menyandang nama Allah, Ar-Rabb dan Ar-Rahman, atau mengetahui hal yang gaib, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, yang tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button