SOSOK

Perjalanan Suka Duka Dakwah di Morowali Utara

Dalam dakwah di pedalaman ini Ustadz Sigit juga mengajarkan arti kesabaran. Pernah suatu ketika ia dan beberapa temannya dimasakkan nasi oleh sebuah suku di pedalaman. Ketika memasak nasi itu, tongkat yang digunakan mengaduk nasi, kadang-kadang digunakan untuk memukul anjing yang lewat di dekat dapur itu. Hal itu terjadi beberapa kali. Melihat kejadian itu, teman-temannya ragu untuk memakan nasi itu dan mereka bertanya kepada Ustadz Sigit.

“Bagaimana ini, apakah kita harus memakannya?” tanya mereka. Ustadz Sigit menjawab, ”Harus kita makan. Kalau nggak, mereka akan kecewa. Allah Maha Melihat,” jawab ustadz Sigit.

Begitulah Ustadz Sigit mengajarkan cara-cara dakwah kepada suku-suku di pedalaman. Tidak sedikit tantangan yang ia hadapi. Mulai dari rumahnya dilempari batu, dakwahnya ditolak dan lain-lain. Tapi dengan pendekatan hikmah dan akhlak mulia yang ia lakukan, akhirnya dakwahnya dapat diterima masyarakat luas. Ratusan orang-orang pedalaman menjadi mualaf berkat dakwahnya di Morowali Utara.

Yang menjadi keprihatinannya saat ini adalah kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap dakwah Islam di sana. Memang ia akui bahwa yang memegang pemerintahan kebanyakan bukan umat Islam.

Selain dakwah di pedalaman, Ustadz Sigit juga melakukan dakwah di masyarakat pesisir Pantai. Dalam dakwahnya ini, kadang-kadang ia harus melakukan perjalanan berminggu-minggu dan menginap di rumah pendudk di sana.

Pesan Ustadz Sigit kepada dai-dai muda,”Seorang dai itu jangan hanya tahu ilmu keislaman. Ia harus tahu semua ilmu. Ilmu pertanian, ilmu ekonomi, ilmu sosial, ilmu hukum dan lain-lain,”terangnya. Ia mempunyai pengalaman bahwa masyarakat akan bertanya berbagai macam hal bila bertemu dengannya.

Ustadz Sigit yang nama aslinya Sugiatno SH, punya prinsip bahwa seorang dai itu adalah pemberi solusi dalam masalah kehidupan. “Bila ada satu masalah, harus ada 99 cara solusinya,” terangnya.[]

Nuim Hidayat

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button