Pidato Penghormatan Presiden Zaituna College Atas Wafatnya Profesor Syed Muhammad Naquib Al Attas
Lalu ia berkata, secara singkat dan dalam urutan yang tepat:
Masalah besar yang kita hadapi saat ini disebabkan oleh:
Pertama, kekeliruan dan kebingungan dalam pengetahuan.
Kedua, yang kemudian melahirkan hilangnya adab dalam masyarakat.
Ketiga, kondisi dari dua hal tersebut melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak layak memimpin umat Islam—yang tidak memiliki standar moral, intelektual, dan spiritual yang tinggi—dan mereka terus melanggengkan kondisi tersebut serta mempertahankan kendali atas berbagai urusan umat.
Menurut saya, ini benar-benar merangkum diagnosis beliau secara sangat mendalam.
Beliau sangat memahami konsep adab—yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya. Salah satu hal yang sangat saya perhatikan darinya adalah keteraturan dalam hidupnya. Rumahnya sangat tertata. Perpustakaannya tersusun dengan indah. Bahkan cara berpakaiannya pun mencerminkan hal itu. Ia benar-benar mengamalkan apa yang ia ajarkan—ia “walk the talk”.
Saya merasa sangat bersyukur bisa mengenalnya, belajar darinya, dan mengambil manfaat darinya. Dan ini adalah waktu yang tepat untuk mendoakannya.
Menarik bahwa para tokoh besar sering wafat di waktu-waktu seperti Ramadan. Saya merasa sangat terhormat pernah mengenalnya.
Dalam banyak hal, apa yang kami lakukan di Zaytuna adalah kelanjutan dari apa yang beliau lakukan di Malaysia melalui ISTAC—menciptakan tempat yang indah, karena beliau sangat menjunjung tinggi keindahan. Ia melihat bentuk dan fungsi sebagai sesuatu yang tak terpisahkan—jasad dan ruh, keduanya harus ada.
Ia memahami bahwa konten tanpa bentuk adalah cacat. Dan ini adalah sesuatu yang sering diabaikan oleh dunia modern—yang kurang menghargai bentuk, sementara isi sering kali justru merosot dan bahkan rusak.
Beliau adalah seorang yang sangat berbudi luhur. Hal lain yang sangat mencolok darinya adalah kebahagiaannya. Ia adalah pribadi yang benar-benar penuh kegembiraan. Ia sering tertawa—bukan dalam arti dangkal, tetapi sebagai bentuk kecintaan yang mendalam terhadap kehidupan.
Ia akan sangat dirindukan oleh orang-orang yang mengenalnya, tentu oleh keluarganya, dan juga oleh komunitas kita—karena kita sangat membutuhkan suara-suara penuh hikmah seperti beliau.
Pada akhirnya, beliau adalah sosok manusia yang sangat bijaksana. Ia mencintai agama ini, dan mencintai Nabi ﷺ, dan itu tercermin dalam dirinya.
Hal lain yang mungkin tidak banyak diketahui orang adalah bahwa gagasan “Islamisasi ilmu pengetahuan” sebenarnya berasal darinya. Gagasan itu kemudian diambil oleh orang lain, meskipun beliau tidak selalu setuju dengan bagaimana gagasan itu dikembangkan.
Intinya adalah bahwa Islam memiliki pandangan hidup (worldview), dan pandangan hidup itu harus dipahami sebelum kita mendekati ilmu pengetahuan. Ini adalah inti dari metafisika yang ia bangun—bahwa tanpa metafisika yang kokoh, segala sesuatu akan mudah keliru.
Akhirnya, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya, mengangkat derajatnya di surga, memberikan ketabahan kepada keluarganya, dan menjadikan karya-karyanya terus dibaca serta diambil manfaatnya oleh umat.
Alhamdulillah.[]
Dr. Hamzah Yusuf, Presiden Zaytuna College.






