Refleksi 2/10/1187: Belajar dari Salahuddin dalam Membebaskan Baitul Maqdis
UNESCO mencatat nilai universal luar biasa kawasan tersebut dan menempatkannya dalam Daftar Warisan Dunia yang terancam sejak 1982.
Maka, membela Al-Aqsa berarti menolak segala upaya yang secara tidak adil merusak fungsi ibadahnya. Perjuangan itu harus dilakukan dengan landasan ilmu, bukti yang dapat diverifikasi, solidaritas kemanusiaan, dan langkah politik serta hukum yang bertanggung jawab.
Salahuddin: Kemenangan Tidak Lahir dalam Semalam
Mengapa Salahuddin berhasil merebut kembali Yerusalem?
Jawabannya bukan karena umat Islam pada masa itu tidak memiliki persoalan internal. Sebaliknya, dunia Islam menghadapi fragmentasi politik yang panjang.
Wilayah-wilayah Muslim terbagi dalam berbagai pemerintahan, persaingan antarpenguasa berlangsung, dan kekuatan Tentara Salib telah membangun posisi strategis di kawasan Syam dan Palestina.
Salahuddin memahami bahwa cita-cita membebaskan Baitul Maqdis tidak dapat diwujudkan hanya dengan seruan emosional. Ia membutuhkan fondasi kekuasaan, konsolidasi politik, kesiapan militer, dukungan masyarakat, dan strategi jangka panjang.
Penguatan Mesir menjadi salah satu fondasi penting bagi kekuasaannya. Ia kemudian memperluas konsolidasi politik di Suriah dan wilayah sekitarnya, sembari membangun kemampuan untuk menghadapi negara-negara Tentara Salib.
Puncak dari rangkaian strategi itu adalah Pertempuran Hattin pada 4 Juli 1187. Kemenangan tersebut menghancurkan sebagian besar kemampuan utama pasukan Kerajaan Yerusalem untuk melakukan perlawanan terorganisasi.
Setelah itu, berbagai kota dan benteng jatuh ke tangan pasukan Salahuddin. Yerusalem kemudian dikepung dan menyerah pada 2 Oktober 1187.
Urutan peristiwa ini penting. Baitul Maqdis tidak dibebaskan melalui satu pidato, satu demonstrasi, atau satu pertempuran yang berdiri sendiri.
Pembebasannya merupakan hasil dari proses panjang yang menyatukan kekuatan politik, diplomasi, strategi militer, dan kesiapan masyarakat.
Di sinilah pelajaran pertama Salahuddin bagi umat Islam hari ini: kerinduan terhadap Al-Aqsa harus diubah menjadi kapasitas nyata untuk melindunginya.
Kita membutuhkan generasi yang memahami sejarah Palestina, ahli hukum internasional yang mampu memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina, diplomat yang memiliki kecakapan negosiasi, ekonom yang memperkuat kemandirian umat, jurnalis yang mengungkap fakta, serta ulama yang membangun kesadaran dan keteguhan moral.
Semangat tanpa strategi mudah menguap. Strategi tanpa tujuan moral kehilangan arah. Keduanya harus dipertemukan.






