Refleksi 2/10/1187: Belajar dari Salahuddin dalam Membebaskan Baitul Maqdis
Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11).
Ayat ini bukan janji bahwa setiap perubahan politik akan terjadi secara otomatis setelah umat memperbaiki diri. Ia mengingatkan kita akan pentingnya perubahan internal sebagai bagian dari tanggung jawab manusia dalam menghadapi kenyataan.
Karena itu, peringatan 2 Oktober harus menjadi momentum untuk membangun kesadaran baru: memperkuat iman, memperluas ilmu, menyatukan ikhtiar, dan menerjemahkan solidaritas menjadi kerja nyata.
Kita menginginkan Al-Aqsa terlindungi, umat Muslim dapat beribadah di sana dengan aman dan bermartabat, serta rakyat Palestina memperoleh kebebasan, keselamatan, dan hak menentukan masa depan mereka sendiri. Tujuan itu harus diperjuangkan melalui langkah-langkah yang efektif, berkelanjutan, dan menjunjung tinggi keadilan.
Salahuddin telah meninggalkan jejak sejarah. Tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa jejak itu menjadi pelajaran, bukan sekadar legenda.
Pada 2 Oktober 1187, Baitul Maqdis kembali ke tangan pemerintahan Muslim setelah perjuangan panjang. Pada 2 Oktober 2026, pertanyaan bagi generasi kita bukan sekadar kapan kita akan menyaksikan perubahan berikutnya, melainkan apa yang sedang kita bangun hari ini agar Al-Aqsa terlindungi, Palestina merdeka, dan keadilan benar-benar memperoleh tempatnya dalam sejarah.
Sebab, Baitul Maqdis tidak akan dibela dengan kenangan semata. Ia membutuhkan umat yang mampu mengubah iman menjadi ilmu, ilmu menjadi strategi, strategi menjadi kekuatan, dan kekuatan menjadi keadilan.[]






