Refleksi 2/10/1187: Belajar dari Salahuddin dalam Membebaskan Baitul Maqdis
Dukungan dapat diwujudkan melalui lembaga kemanusiaan yang kredibel, pelayanan kesehatan, pendidikan, bantuan bagi pengungsi, dukungan terhadap keluarga yang kehilangan tempat tinggal, serta penguatan kapasitas masyarakat sipil Palestina.
Umat juga perlu mengembangkan literasi ekonomi agar keputusan konsumsi, investasi, filantropi, dan advokasi dilakukan berdasarkan informasi yang dapat dipercaya, bukan sekadar rumor.
Kelima, menghidupkan kembali masjid sebagai pusat peradaban. Inilah pelajaran yang paling dekat dengan kehidupan kita.
Kita tidak mungkin membangun kekuatan peradaban hanya dengan merindukan Al-Aqsa, sementara masjid-masjid kita belum optimal menjadi pusat pendidikan, pembinaan generasi, pengembangan ilmu, pemberdayaan ekonomi, dan solidaritas sosial.
Salahuddin tidak membebaskan Yerusalem dengan slogan semata. Ia bekerja dalam suatu ekosistem politik, keilmuan, sosial, dan militer yang menopang cita-citanya.
Hari ini, umat Islam harus membangun ekosistem serupa dalam bentuk yang sesuai dengan zaman: universitas yang unggul, lembaga riset yang produktif, ekonomi yang tangguh, organisasi masyarakat yang dipercaya, media yang berintegritas, serta diplomasi yang efektif.
Membela Al-Aqsa dimulai dengan mengubah umat menjadi kekuatan yang berilmu, bersatu, mandiri, dan berpengaruh.
Jadilah Generasi yang Menyiapkan Jalan
Tanggal 2 Oktober 1187 bukan jaminan bahwa sejarah akan selalu berpihak kepada kaum Muslimin. Ia adalah bukti bahwa keadaan yang tampak sulit dapat berubah melalui proses panjang, konsolidasi kekuatan, kepemimpinan, dan strategi yang tepat.
Salahuddin tidak hidup pada zaman kita. Kita tidak dapat menyalin seluruh kebijakan atau metode zamannya untuk diterapkan begitu saja pada dunia modern.
Namun, kita dapat mempelajari prinsip-prinsip yang membuat perjuangannya menjadi bagian penting dari sejarah: visi yang jelas, kesabaran strategis, persatuan yang dibangun, kapasitas yang dipersiapkan, dan tanggung jawab moral setelah kemenangan.
Hari ini, Masjid Al-Aqsa kembali menguji kesungguhan umat Islam. Apakah kita hanya menjadikannya simbol kebanggaan, atau bersedia menjadikannya agenda pendidikan, diplomasi, kemanusiaan, hukum, dan pembaruan peradaban?
Apakah kita hanya mengagumi Salahuddin, atau bersedia meneladani kesungguhannya dalam menyiapkan kekuatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan?
Dan apakah kita memahami bahwa membela tempat suci menuntut lebih dari kemarahan: ia menuntut ilmu, keberanian, kesabaran, persatuan, serta kerja yang tidak terputus?






