Relasi Pendidikan Keluarga dan Sekolah [Bagian 5-Akhir]
Anak yang sejak kecil terbiasa dan terlatih dalam lingkungan keluarga yang menanamkan cinta terhadap kebaikan dan kebencian terhadap keburukan tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif di sekolah. Baginya, mencintai kebaikan dan membenci keburukan telah menjadi prinsip hidup yang harus dipegang teguh dalam keadaan apa pun dan di mana pun ia berada. Sebaliknya, anak yang tidak mendapatkan pendidikan dan pembiasaan seperti itu di rumah biasanya akan lebih mudah terbawa arus pergaulan yang buruk.
Dalam konteks pendidikan nasional Indonesia, setiap jenjang sekolah memang diwajibkan untuk menyelenggarakan pendidikan agama. Namun, pendidikan agama di sekolah memiliki karakter yang berbeda dengan pendidikan agama di keluarga. Secara umum, pendidikan agama di sekolah berfungsi sebagai penguatan dan pengingat terhadap nilai-nilai agama yang seharusnya telah ditanamkan oleh orang tua di rumah.
Apabila peserta didik tidak mendapatkan dasar pendidikan agama yang kuat dari keluarga, maka pelajaran agama di sekolah bisa terasa asing baginya. Bahkan, ada kemungkinan ia membandingkan pelajaran agama dengan mata pelajaran lain dan menganggapnya sebagai sesuatu yang kurang menarik atau membosankan.
Satu hal penting yang perlu ditegaskan untuk menutup uraian bagian ini adalah kebiasaan sebagian orang tua yang sepenuhnya menyerahkan pendidikan anak kepada pihak sekolah. Menurut penulis, kebiasaan seperti ini merupakan kekeliruan. Selama orang tua masih hidup, tanggung jawab pendidikan terhadap anak tetap melekat padanya, khususnya pendidikan Islam dalam konteks keluarga muslim.
Sekolah berperan sebagai lembaga yang membantu mengembangkan minat dan bakat peserta didik, namun pendidikan agama sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua di rumah.
Oleh karena itu, selain guru di sekolah, orang tua juga harus aktif melakukan evaluasi terhadap perilaku anak sepulang dari sekolah. Apabila ditemukan perilaku yang kurang baik, maka orang tua berkewajiban untuk menasihati, membimbing, dan meluruskan kembali perilaku tersebut agar anak tetap berada di jalan yang benar sesuai ajaran Islam.
Penutup
Sebagai penutup, dapat ditegaskan bahwa pendidikan Islam merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan sekolah, dengan keluarga sebagai fondasi utamanya.
Pendidikan yang dimulai dari rumah melalui pembiasaan nilai-nilai iman, ibadah, dan akhlak menjadi dasar kokoh bagi pembentukan pribadi anak. Sekolah kemudian berperan melengkapi, memperkaya wawasan, serta mengembangkan potensi dan keterampilan anak agar mampu menghadapi dinamika kehidupan modern tanpa kehilangan jati diri sebagai hamba Allah.
Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai keislaman yang diajarkan di rumah dan diperkuat di sekolah mampu melahirkan generasi beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta berkontribusi positif bagi masyarakat dan peradaban. Demikian, wallahu a’lam. []
Zuhaili Zulfa, Mahasiswa PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.






