EKBIS

Republik Gerobak

Sektor Informal yang Membengkak

Masalahnya bukan pada keberadaan sektor informal itu sendiri. Pedagang kaki lima, asongan, dan ojek daring dibutuhkan dalam porsi wajar sebagai penyangga sosial.

Masalah muncul ketika sektor informal membengkak dan menjadi tulang punggung ekonomi. Jika semua orang berdagang, siapa yang memproduksi barang? Siapa yang membuat sepatu, merakit mesin, mengolah pangan secara modern?

Ekonomi yang bertumpu pada distribusi tanpa produksi adalah ekonomi rapuh—rentan ambruk saat daya beli melemah atau platform digital mengubah algoritma.

Mimpi Besar tanpa Mesin Industri

Di atas kerapuhan itu, jargon besar diumbar. “Indonesia Emas 2045” dikumandangkan dengan optimisme tinggi. Namun tanpa industrialisasi, emas itu hanya kilap palsu.

Negara-negara yang kini maju tidak tumbuh dari gerobak. Jepang, Korea Selatan, dan Cina melesat melalui industrialisasi dan peningkatan teknologi manufaktur. Vietnam dan Malaysia memperkuat basis manufaktur berorientasi ekspor. Jerman menancapkan kekuatan pada industri presisi.

UMKM memang penting, tetapi industri adalah mesin pertumbuhan—pencipta produktivitas, upah layak, dan inovasi.

Sarjana, Seblak, dan Jalan Pintas Negara

Ketika lulusan universitas tak terserap, negara kerap mengambil jalan pintas: menyuruh mereka membuka usaha.

Tanpa pembiayaan yang masuk akal, skema kredit yang adil, dan pendampingan berkelanjutan, anjuran itu menjadi pengakuan telanjang atas kegagalan negara menyediakan pekerjaan bermutu.

Menyuruh sarjana berjualan seblak tanpa ekosistem pendukung bukan strategi pembangunan; itu sekadar memindahkan risiko dari negara ke individu.

Lapangan Kerja yang Menguap

Kegagalan menciptakan lapangan kerja massal mendorong orang berbondong-bondong menjadi pengemudi ojol, pedagang mikro, atau penyedia jasa serba bisa.

Janji jutaan lapangan kerja menguap, tergantikan oleh pekerjaan fleksibel tanpa jaminan sosial memadai. Bahkan usaha martabak—ikon ketahanan usaha kecil—tak kebal dari bangkrut.

Persaingan berlebih dan daya beli yang stagnan memukul siapa saja.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button