Saatnya Dunia Memboikot Amerika Serikat
Di bawah Donald Trump, Amerika Serikat meningkatkan kekerasan di luar negeri dan represi di dalam negeri, tanpa menghadapi sanksi apa pun sebagaimana yang rutin dituntut terhadap negara-negara lain. Kampanye boikot dan divestasi global kini mungkin menjadi satu-satunya cara non-kekerasan untuk memaksa akuntabilitas.
Memboikot para pendukung penindasan dan militerisme AS yang berprofil tinggi—baik Trump, Bari Weiss, maupun Elon Musk—akan semakin menarik perhatian publik. Jika dunia ingin AS berbuat lebih baik terhadap rakyatnya sendiri dan bertindak sebagai negara yang lebih bertanggung jawab di panggung global, dunia harus bertindak secara kolektif untuk memboikot dan menarik investasi dari pengaruh AS.
Tidak lama berselang, Uni Soviet lama kerap melabeli orang Amerika sebagai “babi kapitalis” atau “babi imperialis”. Propaganda Perang Dingin tersebut disertai film-film yang menggambarkan “pemimpin dunia bebas” versi mereka sebagai masyarakat yang terkoyak oleh konflik sipil rasis dan represi kekerasan terhadap mereka yang menentang ketidakadilan.
Bertahun-tahun setelah King menyampaikan pidato publik pertamanya yang menggalang Boikot Bus Montgomery—di mana ia menyebut “senjata protes” sebagai kemuliaan Amerika, dengan segala kekurangannya”—ia kemudian memahami bahwa banyak hal yang dulu dianggap sebagai propaganda Soviet ternyata merupakan realitas mendasar. “Kejelekan kapitalisme sama nyatanya dengan kejelekan militerisme dan rasisme. Masalah ketidakadilan rasial dan ketidakadilan ekonomi tidak dapat diselesaikan tanpa redistribusi radikal kekuasaan politik dan ekonomi,” kata King pada 1967. Inilah sesuatu yang perlu diingatkan dunia kepada AS pada tahun 2026. []
*Dosen Profesor di American University, Washington, DC. Penulis Spinning Sage’s Gold: Allegories on the Western-Dominated Present and a Possible Post-Western Future (2025)
Sumber: Aljazeera






