#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Sebagai Orang Palestina, Saya Berdiri bersama Rakyat Iran

Sejarah mengajarkan kita bahwa janji-janji Barat tentang kepedulian terhadap “kebebasan” kita adalah kosong. Karena imperialisme menginginkan kendali.

Setelah serangan pertama, para guru berusaha melindungi para siswa. Petugas medis bergegas ke lokasi untuk menyelamatkan yang terluka. Lalu, bom kedua jatuh.

Itu adalah serangan “double-tap” — kengerian perang modern yang sangat dikenal oleh warga Gaza. Dirancang untuk membunuh target utama, lalu membunuh lagi mereka yang datang menolong.

Seperti di Gaza, serangan terhadap sekolah putri di Minab bukanlah pengecualian. Dalam tiga minggu terakhir, Israel dan Amerika Serikat menurunkan kematian dan kehancuran di berbagai ruang publik di Iran. Sekolah, rumah sakit, gedung olahraga, stadion, toko, kafe, bazar, dan situs bersejarah telah diserang. Lebih dari 5.000 unit hunian terkena dampak, dan lebih dari 1.900 warga sipil tewas.

Seperti di Gaza, tujuan kumulatifnya bukan hanya kehancuran fisik, tetapi juga penyebaran ketakutan dan teror. Penargetan ruang sipil berfungsi sebagai bentuk perang psikologis — serangan terhadap gagasan tentang keamanan dan normalitas itu sendiri.

Menargetkan infrastruktur sipil bertentangan dengan hukum internasional. Namun, Amerika Serikat dan Israel memandang norma hukum internasional melalui lensa Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang berulang kali menyatakan ketidaksukaannya terhadap aturan keterlibatan, menyebutnya “bodoh”.

Kini jelas bahwa Gaza telah menjadi laboratorium bagi Israel — tempat uji coba bagi visi yang ingin diterapkannya di seluruh kawasan.

Beberapa hari lalu, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengeluarkan peringatan yang mengerikan: “Dahiyeh [di Beirut selatan] akan terlihat seperti Khan Younis.”

Kehancuran Khan Younis — kampung halaman saya — telah menjadi model baru kehancuran yang akan diulang di tempat lain. Di Lebanon, dalam kurun 20 hari, model ini telah menyebabkan pembantaian hampir 1.100 orang, termasuk 120 anak-anak — setara satu kelas penuh setiap tiga hari.

Apa yang kita saksikan di Gaza menjalar ke Lebanon, lalu ke Iran.

Apa tujuan akhirnya? Konsolidasi hegemoni Israel di kawasan. Strateginya tidak selalu berupa penggulingan total rezim Iran, melainkan menghancurkan negara Iran itu sendiri dan secara signifikan mengurangi kapasitasnya untuk memproyeksikan kekuatan. Iran yang dilemahkan atau dihancurkan tidak lagi menjadi penghalang bagi supremasi regional Israel.

Semua ini terjadi dengan dukungan penuh Amerika Serikat. Bulan lalu, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyatakan dukungannya terhadap ekspansi Israel menuju “Israel Raya”.

Kekuatan Barat lainnya juga turut menyetujui, mendukung perang ilegal terhadap Iran, meskipun menolak mengerahkan pasukan, kapal, dan pesawat mereka sendiri.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button