Sekali Lagi, Netanyahu Mengakali Trump
Netanyahu berhasil sekaligus memuji Trump dan memainkan rasa sakit hatinya karena gagal meraih penghargaan perdamaian paling bergengsi di dunia. Selama bertahun-tahun Trump bersikeras bahwa ia layak meraih Nobel karena perjanjian diplomatik antara Israel dan beberapa negara Arab selama masa jabatan pertamanya. Perjanjian yang disebut Abraham Accords itu dimediasi pada 2020 oleh Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat senior Trump, dan melibatkan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko. Tetapi Trump gagal membujuk Arab Saudi, negara Arab terpenting, dan putra mahkotanya Mohammed bin Salman, untuk menormalkan hubungan dengan Israel.
Seperti rencana perdamaian Trump untuk Gaza saat ini, Abraham Accords juga dinegosiasikan langsung dengan Israel dan rezim-rezim otoriter Arab – dengan mengecualikan Palestina dari pembicaraan mengenai masa depan mereka sendiri. Kesepakatan ini lahir dari pola pikir para taipan properti seperti Trump, Kushner, dan Steve Witkoff, yang kini menjabat sebagai utusan Timur Tengah dan salah satu diplomat utama Trump di masa jabatan keduanya. Trump dan Kushner selalu melihat Gaza seperti proyek real estate, di mana orang-orang Palestina dianggap penghalang yang menolak menyerah untuk memberi jalan bagi renovasi lahan pantai bernilai tinggi di sepanjang Laut Tengah.
Dalam salah satu perkembangan langka yang positif bagi warga Gaza, Trump akhirnya membatalkan gagasannya yang banyak dicemooh, yang ia lontarkan saat bertemu Netanyahu pada Februari, yaitu agar AS mengambil alih Gaza dan menjadikannya “Riviera Timur Tengah” – yang pada dasarnya berarti mendukung pembersihan etnis terhadap warga Palestina.
Namun pada Senin, ketika mengumumkan rencana terbarunya yang akan membentuk dewan pemerintahan sementara Gaza dengan dirinya sendiri sebagai ketua, Trump tak kuasa untuk tidak berimprovisasi soal nilai ekonomi kawasan pantai Gaza. “Sebagai orang real estate, maksud saya, mereka menyerahkan lautan,” kata Trump, merujuk pada keputusan Israel tahun 2005 menarik pasukan yang menduduki Gaza, bersama sekitar 8.000 pemukim Israel. Ia menambahkan: “Mereka menyerahkan lautan. Saya bilang: ‘Siapa yang mau buat kesepakatan seperti itu?’”
Kenyataannya, meski telah menarik pasukan, Israel tetap mengendalikan wilayah udara, perbatasan, dan garis pantai Gaza. Pada 2007, setelah Hamas mengambil alih Gaza secara militer menyusul kemenangan dalam pemilu legislatif Palestina, Israel memberlakukan blokade yang masih berlangsung hingga kini. Israel memang meninggalkan pantai, tapi tetap menguasai lautnya.
Menjelang pengumuman Senin di Gedung Putih, Kushner dan Witkoff menghabiskan waktu berjam-jam bertemu Netanyahu, yang berhasil melakukan perubahan menit terakhir pada rencana Trump, termasuk ruang lingkup dan waktu penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Seperti yang ia lakukan selama dua tahun terakhir, perdana menteri Israel berhasil memaksakan kehendaknya kepada pemerintahan AS – yang seharusnya memiliki pengaruh lebih besar terhadapnya, bukan sebaliknya. Dan itu berarti Netanyahu mungkin akan menggagalkan rencana perdamaian terbaru Trump. []
Sumber: The Guardian






