Sekali Lagi, Netanyahu Mengakali Trump
Mohamad Bazzi, Direktur Pusat Kajian Timur Dekat Hagop Kevorkian dan profesor jurnalisme di Universitas New York.
Trump menganggap dirinya sebagai ahli pembuat kesepakatan. Tetapi ia secara rutin berhasil dikalahkan oleh para pemimpin otoriter seperti Netanyahu dan Vladimir Putin.
Sebagai kandidat presiden, Donald Trump pernah mengklaim bahwa ia akan segera mengakhiri perang di Gaza. Delapan bulan setelah menjabat, Trump akhirnya memutuskan untuk memberikan sedikit tekanan AS kepada Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel, dengan mengumumkan rencana perdamaian 20 poin di Gedung Putih pada Senin.
Namun kesepakatan yang dibuat presiden AS dengan Netanyahu – setelah Trump berbulan-bulan menunda, membiarkan Israel melanjutkan perang genosidanya dengan senjata AS dan dukungan politik tanpa syarat – bukanlah sebuah proposal gencatan senjata, melainkan ultimatum bagi Hamas untuk menyerah.
Setelah hampir dua tahun memperpanjang perang dan menghalangi negosiasi gencatan senjata, Netanyahu memperoleh hampir semua yang ia inginkan, berkat Trump. Rencana AS menyerukan agar Hamas meletakkan senjata dan membebaskan sandera Israel yang tersisa di Gaza, namun membiarkan pasukan Israel menduduki sebagian Gaza untuk waktu yang tidak ditentukan. Itu mendekati janji “kemenangan total” atas Hamas yang terus-menerus dijanjikan Netanyahu kepada publik Israel, tetapi gagal diwujudkan di medan perang.
Apa jadinya jika Hamas menolak kesepakatan ini, yang disusun tanpa melibatkan Hamas maupun faksi Palestina lain? Trump menegaskan ia akan memberi Netanyahu keleluasaan untuk menabur lebih banyak kematian dan kehancuran di Gaza.
“Israel akan mendapat dukungan penuh saya untuk menuntaskan pekerjaan menghancurkan ancaman Hamas,” katanya di Gedung Putih. Pada Selasa, Trump menambahkan bahwa ia memberi pejabat Hamas “tiga atau empat hari” untuk merespons – dan memperingatkan bahwa kelompok itu akan “membayar di neraka” jika menolak perjanjian tersebut. Dalam negosiasi sebelumnya, Hamas telah menolak proposal Israel yang memaksa kelompok itu melucuti senjata dan menyingkirkannya dari peran pemerintahan di Gaza.
Sekali lagi, Netanyahu berhasil mengalahkan Trump, yang menganggap dirinya ahli membuat kesepakatan. Tetapi ia secara rutin dipermainkan oleh orang-orang kuat seperti Netanyahu dan Vladimir Putin.
Ketika Trump menjabat pada Januari, ia sebenarnya berada di posisi lebih kuat dibanding pemimpin Israel itu, karena berhasil mendorong Netanyahu untuk menyetujui gencatan senjata di Gaza yang berlaku sehari sebelum pelantikannya, 20 Januari. Tetapi Netanyahu, yang khawatir pemerintah sayap kanannya akan runtuh jika ia menyetujui gencatan senjata permanen dengan Hamas, memberlakukan pengepungan baru atas Gaza pada awal Maret. Dengan restu Trump, Israel menahan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lain dari warga Palestina. Netanyahu kemudian menolak melanjutkan negosiasi dengan Hamas, dan melanggar gencatan senjata itu setelah dua bulan.
Karena dukungan tanpa syarat Trump terhadap Netanyahu, AS kini semakin terlibat dalam kejahatan perang Israel. Sejak Netanyahu melanjutkan perang pada Maret, sekitar 15 dari setiap 16 orang yang dibunuh militer Israel di Gaza adalah warga sipil, menurut kelompok pemantau kekerasan independen Acled. Israel juga melancarkan kampanye kelaparan yang lebih parah dan menyebabkan bencana kelaparan di Gaza utara. (Pada Agustus, The Guardian melaporkan bahwa basis data rahasia militer Israel menunjukkan 83% warga Palestina yang terbunuh di Gaza antara Oktober 2023 hingga Mei tahun ini adalah warga sipil).
Sepanjang jalan, Netanyahu memanfaatkan keinginan Trump untuk dipuji, sehingga bisa tidak hanya memperpanjang perang di Gaza tetapi juga melakukan serangan ke negara-negara lain di Timur Tengah, termasuk Iran, Lebanon, Suriah, dan Yaman. Dimulai dengan miliaran dolar senjata AS yang diberikan oleh pemerintahan Joe Biden dan dilanjutkan di bawah Trump, Israel bisa membombardir hampir di mana saja di kawasan, tanpa konsekuensi.
Pada Juni, Israel meluncurkan serangan mendadak terhadap Iran, menewaskan puluhan pejabat militer senior dan ilmuwan nuklir. Netanyahu lalu meyakinkan Trump untuk sesaat ikut dalam perang Israel, ketika ia memerintahkan pesawat AS mengebom tiga fasilitas nuklir utama Iran.
Dua minggu kemudian, awal Juli, Netanyahu datang makan malam ke Gedung Putih. Trump ingin memanfaatkan momentum gencatan senjata antara Iran dan Israel yang ia makelarnya, dan berencana menekan Netanyahu agar membuat kesepakatan dengan Hamas di Gaza. Tetapi Netanyahu berhasil menghindari tekanan publik Trump untuk mengakhiri perang Gaza, seperti yang dilakukan Trump beberapa minggu sebelumnya dengan gencatan Iran. Sebaliknya, Netanyahu membelai ego Trump dengan mengungkapkan bahwa ia telah menominasikan presiden AS itu untuk Hadiah Nobel Perdamaian.






