LAPSUS

Semarak Acara Temu Ilmiah Akhir Tahun INSISTS: Bincang Konsep Pendidikan Terbaik

Henri menegaskan perlunya revolusi cara pandang. Ketika melihat alam semesta, kita tidak boleh hanya berhenti pada aspek fisik-empiris (geologi, astronomi), tetapi harus menembusnya hingga melihatnya sebagai Ciptaan Allah (khalqullah). Ketika membaca hadits, itu bukan sekadar teks sejarah, melainkan ta’rifat (pengenalan) dari Allah lewat lisan Nabi.

Tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan kemampuan al-furqan: kemampuan membedakan antara kebenaran (al-haqq) dan kepalsuan (al-batil). Budaya ilmu dalam Islam adalah budaya perlawanan terhadap sufastha’iyyah (kaum Sofis), yaitu orang-orang yang pandai bersilat lidah membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Jangan sampai kita mencetak ahli fisika yang tidak tahu mana yang benar (haqq) dan mana yang jahat (munkar).

Sementara itu, perjalanan intelektual Dr. Ugi Suharto bermula dari sebuah kegelisahan eksistensial pada 1984. Di tengah situasi pendidikan nasional yang melarang jilbab di sekolah negeri saat itu, ia merasakan kebingungan mendalam terhadap konsep pendidikan di Indonesia. Kegelisahan ini menuntunnya pada pertemuan takdir dengan Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang memberikan jawaban fundamental: Pendidikan Islam bukan sekadar sekolah, melainkan at-ta’dib.

Dalam wacana modern, “holistik” sering diartikan sekadar “menyeluruh” (whole). Namun, Prof. Al-Attas membawa pemaknaan ini ke level ontologis yang lebih tinggi. Holistik dalam Islam merujuk pada konsep kamil (sempurna) atau kulli (universal). Tujuannya adalah mencetak al-insan al-kamil (manusia sempurna) dengan Rasulullah Saw sebagai prototipe utamanya.

Secara etimologis, dari kata kulli (universal) inilah lahir istilah kulliyyah (fakultas/kampus), yang kemudian diserap Barat menjadi college. Sejatinya, universitas (kulliyyah) adalah tempat mencetak manusia yang berpikir universal, bukan manusia yang terkotak-kotak dalam spesialisasi sempit (partikular) hingga kehilangan perspektif besarnya. Pendidikan holistik adalah pendidikan yang mengembalikan manusia pada fitrah universalnya melalui Adab.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) itu menegaskan, adab bukan sekadar etiket, tata krama, atau sopan santun permukaan. Adab adalah the absorption of adab into the self (penyerapan adab ke dalam diri). Struktur adab dibangun di atas dua pilar yang tak terpisahkan:

ā–« Recognition (Pengenalan): Aspek kognitif/ilmu; mengetahui kebenaran dan tempat segala sesuatu.
ā–« Acknowledgement (Pengakuan): Aspek afektif/amal; ketundukan dan tindakan yang sesuai dengan pengetahuan tersebut.

Ketimpangan pada dua pilar ini melahirkan dua penyakit utama:

ā–« Recognition without Acknowledgement is Arrogance (Tahu tapi tidak mau tunduk adalah Kesombongan). Contoh utamanya (par excellence) adalah Iblis. Iblis tahu Tuhan itu Allah, tapi menolak sujud. Inilah puncak dari the loss of adab (hilangnya adab).
ā–« Acknowledgement without Recognition is Ignorance (Tunduk tapi tidak tahu adalah Kebodohan). Ugi mencontohkan peristiwa Nabi Adam a.s. sebelum diangkat menjadi Nabi, ketika tertipu oleh Iblis karena ketidaktahuan akan hakikat pohon tersebut, meski niatnya mungkin baik (ingin kekal).

Maka, pendidikan holistik adalah proses menanamkan ilmu yang benar (pengenalan) agar melahirkan amal yang tepat (pengakuan).

Dalam lanskap pendidikan nasional yang sering kali “latah” mengikuti standar Barat, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Dr. Adian Husaini hadir dengan tawaran gagasan yang radikal (mengakar): Desain Pondok Pesantren Terbaik.

Ia memulai dengan meluruskan sanad (garis keturunan) institusi ini. Pesantren di Indonesia bukanlah sekadar warisan budaya lokal, melainkan manifestasi dari tradisi Ahlussuffah di zaman Nabi—sekelompok sahabat yang mendedikasikan hidupnya tinggal di serambi Masjid Nabawi untuk menyerap ilmu langsung dari Rasulullah Saw.

Jika rukun shalat ditinggalkan maka shalat batal, demikian pula pesantren. Pendiri sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren At-Taqwa Depok itu merumuskan Enam Rukun Pesantren yang menjadi nyawa institusi ini. Tanpa keenam hal ini, sebuah lembaga mungkin hanya “hotel syariah” atau “sekolah berasrama”, bukan pesantren.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button