RESONANSI

AI dan Pertanyaan Lama tentang Pendidikan: Sebuah Refleksi

Oleh: Fajri, S.Pd.I, M.Ag., Kepala Sekolah & Pegiat Literasi.

Setiap zaman memiliki pertanyaan pendidikannya sendiri. Pada masa ketika akses sekolah masih terbatas, pertanyaannya adalah bagaimana menyediakan pendidikan bagi semua orang. Ketika industrialisasi tiba, pertanyaan bergeser menjadi bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Hari ini, saat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang pesat, muncul pertanyaan baru: apakah sekolah dan guru masih relevan?

Pertanyaan tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan. Kehadiran AI telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan secara radikal.

Berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan ini mampu menjelaskan konsep-konsep yang rumit dalam hitungan detik. Informasi yang dahulu harus dicari melalui buku di perpustakaan atau penjelasan guru, kini dapat diperoleh dengan mudah. Pengguna hanya perlu mengetik beberapa kata kunci pada layar telepon genggam mereka.

Di tengah perkembangan tersebut, tidak sedikit pihak yang memprediksi bahwa peran sekolah akan semakin berkurang. Bahkan ada yang membayangkan suatu masa ketika pembelajaran berlangsung sepenuhnya melalui teknologi, sementara gedung sekolah hanya menjadi kenangan masa lalu. Namun, di balik pertanyaan tentang eksistensi AI sebenarnya tersembunyi sebuah pertanyaan yang jauh lebih tua dan mendasar: pendidikan untuk apa?

Sebagai kepala sekolah sekaligus pegiat literasi, saya sering menjumpai fenomena yang menarik. Peserta didik hari ini memiliki akses informasi yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka dapat memperoleh jawaban hampir untuk semua pertanyaan melalui internet maupun aplikasi berbasis AI.

Akan tetapi, kemudahan memperoleh jawaban tidak selalu diikuti oleh kemampuan memahami, mengkritisi, dan memaknai jawaban tersebut. Tidak jarang saya melihat peserta didik mampu menemukan informasi dengan cepat, tetapi kesulitan mempertahankan perhatian untuk membaca beberapa halaman buku secara utuh. Mereka hidup di tengah banjir informasi, tetapi sering kali kekurangan ruang untuk merenung.

Mereka akrab dengan berbagai konten digital, tetapi tidak selalu memiliki kesempatan untuk mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermakna. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan hari ini bukan lagi kelangkaan informasi. Persoalan utama kita saat ini justru adalah keberlimpahan informasi.

Dalam konteks itulah AI menghadirkan sebuah ironi. Semakin mudah manusia memperoleh pengetahuan, semakin penting kemampuan untuk menggunakan pengetahuan tersebut secara bijaksana. Semakin cepat jawaban ditemukan, semakin besar kebutuhan manusia untuk memahami makna dari jawaban itu sendiri.

Dalam tradisi Islam, ilmu tidak pernah dipandang sebagai sekadar kumpulan informasi. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw. adalah perintah membaca, iqra’. Akan tetapi, perintah tersebut tidak berdiri sendiri melainkan terhubung dengan kesadaran tentang Tuhan, tanggung jawab moral, dan tujuan hidup manusia.

Karena itu, dalam khazanah Islam, ilmu selalu berjalan beriringan dengan adab. Pemikir Muslim kontemporer, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, bahkan menegaskan bahwa problem utama pendidikan modern bukanlah kekurangan ilmu pengetahuan, melainkan hilangnya adab (loss of adab). Menurut Al-Attas, pendidikan bukan sekadar proses menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil, melainkan proses melahirkan manusia yang baik.

Manusia yang baik adalah mereka yang mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya secara tepat dan adil. Pandangan tersebut terasa semakin relevan di era AI. Hari ini kita tidak sedang menghadapi dunia yang miskin informasi, melainkan hidup di tengah ledakan informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

1 2Laman berikutnya
Back to top button