LAPSUS

Semarak Acara Temu Ilmiah Akhir Tahun INSISTS: Bincang Konsep Pendidikan Terbaik

  1. Keteladanan (Qudwah): Guru bukan sekadar pengajar, tapi pewaris Nabi. Ruh pendidikan adalah sohbah (kebersamaan) antara guru dan murid, sebagaimana Nabi bersama sahabat.
  2. Tafaqquh Fiddin: Fokus utama adalah pendalaman ilmu agama. Ironis jika santri masuk perguruan tinggi umum, ilmu agamanya malah mandek atau hilang.
  3. Jiwa Dakwah & Jihad: Menanamkan visi hidup bahwa ilmu adalah untuk diperjuangkan, bukan sekadar untuk mencari kerja.
  4. Kemandirian: Melatih mental istighna (merasa cukup dengan Allah) dan tidak bergantung pada makhluk/bantuan asing.
  5. Pemahaman Kontemporer: Santri harus paham peta zaman (fiqh al-waqi’), agar tidak gagap menghadapi tantangan modernitas (seperti paham sekularisme, liberalisme).
  6. Penanaman Adab dan Akhlak: Inilah buah dari ilmu. Tanpa adab, ilmu menjadi kering.

Adian memberikan kritik pedas namun penuh kasih terhadap kondisi guru hari ini. Dalam pandangan alam sekular, guru dinilai dengan angka (gaji). Akibatnya, fakultas keguruan (tarbiyah) sering kali bukan pilihan utama “anak-anak terbaik” bangsa. Maka lahirlah Guru yang tidak bermutu, yang disebut Laa Yamuutu (hidup segan mati tak mau).

Dalam Islam, konsep gaji diganti dengan mukafaah (pencukupan). Ini adalah paradigma iman. Jika gaji dinaikkan tapi keberkahan dicabut, ia tidak akan pernah cukup. Sebaliknya, guru memiliki dua jenis honor: Honor Fisik (materi) dan Honor Metafisik (pahala/doa).

Adian mengingatkan logika langit: “Makin kecil gajinya (sementara ia ikhlas), doanya makin makbul karena posisinya ‘terzalimi’ oleh sistem.” Ini bukan pembenaran untuk menggaji kecil, tapi penguatan mental bagi pendidik bahwa nilai mereka tidak ditentukan oleh nominal rupiah.

Kritik Standar “Terbaik”: Finlandia vs At-Taqwa

Dunia memuja Finlandia sebagai kiblat pendidikan terbaik. Adian menantang metrik tersebut dengan Worldview Islam. Bagaimana bisa disebut “terbaik” jika 80% penduduknya ateis dan tidak mengenal Tuhannya? Itu adalah kesuksesan semu (istidraj).

Sebaliknya, kampus seperti At-Taqwa (Depok) berani mengklaim diri “Terbaik”. Mengapa? Karena standar “baik” dalam Islam adalah ketaatan.

Pertanyaan rektor di kampus sekular (seperti UI) mungkin tentang IPK atau jurnal internasional, tapi adakah Rektor yang bertanya: “Apakah mahasiswa saya shalat Subuh?” Inilah missing link dalam pendidikan kita. Indonesia mungkin korupsinya masih ada dan hutannya ditebang, tapi selama tauhid masih ada, peluang masuk surga masih terbuka. Ini optimisme teologis yang tidak dimiliki sistem sekular.

Di penghujung, Adian membongkar ilusi kesuksesan karier wanita. Lulusan pesantren yang menjadi Ibu Rumah Tangga atau Guru Ngaji di kampung sering dianggap “gagal” oleh standar sosial materialis. Padahal, dalam Islam, itu adalah posisi strategis. Ibu adalah Madrasatul Ula (sekolah pertama). Menjadi ibu yang shalihah yang mencetak mujahid dakwah adalah kesuksesan hakiki (falah). Jangan sampai kita silau dengan karier publik tapi rumah tangga (basis peradaban) hancur.

Pesantren terbaik adalah yang berani berbeda: tidak minder dengan standar Barat, mandiri dalam visi, dan teguh mencetak kader yang beradab, bukan sekadar sekrup industri. []

Rep: Wido Supraha dan Nuim Hidayat

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button