NUIM HIDAYAT

Soekarno, Yusuf Qaradhawi dan …

Pernahkah anda membandingkan biografi dua tokoh?

Kalau kita bandingkan dua tokoh dunia ini, kesimpulannya yang hijau rendah hati dan yang merah sombong.

Bacalah biografi Soekarno anda akan melihat kesombongannya. Aku hebat, aku pahlawan, aku pecinta wanita -termasuk pornografi- aku pembangun bangsa ini dan seterusnya. Aku dan aku. Mirip seperti kisah ‘Iblis’ yang menyatakan aku lebih hebat dari manusia. (Soekarno tentu bukan Iblis. Dia meninggal dalam keadaan Muslim dan ulama besar Buya Hamka mau menyalatinya).

Sementara Syekh Yusuf Qaradhawi khawatir dia ujub seperti Iblis yang membangga-banggakan dirinya. Ia tadinya menolak menulis biografinya. Tapi karena banyak ulama yang mendorongnya, akhirnya ia menulisnya. Ia ingin generasi muda mengambil pelajaran dari kisah hidupnya.

Banyak orang mengagungkan Soekarno. Termasuk orang-orang Malaysia, Amerika dll. Tapi Alhamdulillah aku tidak pernah mengaguminya. Ia memang hebat sebagai pemimpin. Tapi pemimpin kaum sekuler. Pemimpin yang melempar agama dalam ‘got sampah.’ Ia lebih senang berangkulan dgn kaum komunis daripada kaum Muslim. Termasuk di istananya.

Soekarno tentu saja ada jasanya. Di masa mudanya ia berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini. Ia berani menghadapi kematian. Ia juga berani menghadapi penjara Belanda

Tapi dosanya juga banyak. Terutama kepada kaum Muslim Indonesia. Dosa pertama adalah menceraikan istri pertamanya Oetari Tjokroaminoto. Bayangkan anak gurunya ia ceraikan. Ia tak punya akhlak kepada gurunya. Itu karena ia mengikuti hawanafsunya bercinta dengan ibu kosnya Inggit Garnasih, yang akhirnya jadi istrinya.

Bandung nampaknya menjadi perubahan ideologi Soekarno. Bila dulu ia kagum pada Tjokro, di Bandung ia kagum dgn intelektual intelektual Belanda yang ia belajar darinya.

Dalam masalah perempuan memang ia tidak bisa mengerem nafsunya. Ke daerah daerah atau keluar negeri lihat wanita cantik, ‘selalu’ ingin digaulinya. Entah berapa perempuan yang kena korban nafsunya.

Dosa politik kedua. Ia tidak membaca teks proklamasi pembukaan UUD 1945. yang dibaca pada 17 Agustus coretan tangannya, hasil konspirasinya dgn pejabat militer Jepang, laksamana Meyda dll. Padahal ada kesepakatan di ‘panitia sembilan’ -perasan dari BPUPK- yang dibentuk Soekarno sendiri, bahwa apabila merdeka nanti yang dibaca adalah Pembukaan UUD 1945 (yang di dalamnya ada Piagam Jakarta). Baca buku “Piagam Jakarta 22 Juni 1945“, tesis master Endang Saifuddin Anshari.

Ketiga, Soekarno yang memimpin rapat pada 18 Agustus 1945 yang menyebabkan kata Islam hilang dalam pembukaan dan batang tubuh UUD 1945. Ini adalah tragedi besar. Karena dari sinilah tokoh-tokoh non Muslim masuk dan mencengkeram pemerintahan lewat militer. Mulai dari Benny Moerdani hingga Luhut saat ini.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button