OASE

Sucikan Hati, Bersihkan Jiwa

Untuk mencapai kesucian hati dan kebersihan jiwa, seseorang harus melalui beberapa tahapan. Ada tiga tahapan dalam menyucikan hati dan membesarkan jiwa, yaitu: Takhalli, Tahalli, dan Tajalli.

1. Takhalli
Artinya membersihkan diri dari dosa dan berbagai penyakit hati, seperti iri, dengki, ria, sombong, dan lainnya.

2. Tahalli
Artinya menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji melalui amalan ketaatan, baik yang wajib maupun sunnah.

Pelaksanaannya dilakukan melalui dua hal utama:

a. Muhasabah
Yaitu evaluasi diri dan introspeksi perilaku, misalnya dengan menuntut ilmu dan memahami agama Islam secara benar agar mampu membedakan antara yang hak dan yang batil.

b. Amal Saleh
Yaitu menjalankan syariat Islam seberat apa pun dan menjauhi larangan-Nya sekecil apa pun, termasuk meninggalkan rasa malas dan berbagai sifat tercela lainnya.

Sebagai muslim muttaqin dan mukmin muwahhid (yang mentauhidkan Allah Swt), kita wajib menyucikan hati dan membersihkan jiwa dari penyakit batin serta pengaruh hawa nafsu yang merusak iman dan ibadah, demi mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Urgensi belajar menyucikan hati dan membersihkan jiwa adalah agar kita terbebas dari belenggu penyakit hati dan kotoran jiwa, seperti ambisi berlebihan terhadap dunia. Semua itu harus dikikis habis dari lubuk hati agar hati dan jiwa kita senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah saw.

Adapun kitab-kitab yang membahas penyucian hati dan pembersihan jiwa yang penting dipelajari antara lain karya para ulama salafushalih seperti Ibnu Rajab Al-Hanbali, Ibnul Qayyim, dan Abu Hamid Al-Ghazali.

Menyucikan jiwa bukan hanya soal perilaku lahiriah, tetapi lebih fokus pada perbaikan batiniah. Karena secara substansial, bahagia atau celakanya seorang hamba sangat ditentukan oleh bagaimana ia menyikapi syariat Islam secara kaffah dan menjalankan ajaran tasawuf secara serius dan tuntas.

Jika taat, maka ia akan bahagia. Jika maksiat, maka ia akan celaka. Meski hakikatnya semua itu tetap dalam ketentuan Allah Swt. Sebab bisa jadi seorang hamba yang banyak maksiat memperoleh kebahagiaan di akhirat karena diakhiri dengan taubat. Sebaliknya, bisa jadi seorang ahli ibadah masuk neraka karena amalnya disertai maksiat atau riya.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button