Tanggung Jawab Bersama untuk Masa Depan Anak
Berkaitan dengan hak anak, Islam menegaskan bahwa tanggung jawab terhadap pendidikan anak ada di pundak orang tua. Anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Karena itu, rumah hendaknya menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak. Orang tua berperan sebagai guru di rumah dapat menciptakan pendidikan yang ramah bagi anak.
Anak sebagai anugerah dan amanah yang dibebankan kepada orang tua. Banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan kasih sayang orang tua terhadap anak, seperti anak permata bunda, belahan jiwa, dan buah hati.
Hal itu karena, bagi orang tua bahwa anak adalah segalanya, bisa mengalahkan yang lain termasuk dirinya sendiri. Maka, wajar jika Nabi Saw bersabda, “Anak itu adalah buah hati.” (HR Abu Ya’la).
Anak terlahir dalam keadaan fitrah, bagaikan lembaran kertas putih yang masih bersih (HR Bukhari). Karena itu, Islam memerintahkan kepada orang tua untuk mendidik dan memikul tanggung jawab pendidikan anak (QS at-Tahrim [66]: 6), dan tidak bisa diwakilkan kepada orang lain, termasuk kepada guru.
Ibnu Qayyim menegaskan tanggungjawab orang tua dengan mengutip perkataan ulama, “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap anak tentang orang tuanya. Maka, barang siapa mengabaikan pendidikan anak dan menelantarkannya maka ia telah melakukan puncak keburukan. Sesungguhnya, kebanyakan kerusakan pada anak diakibatkan oleh orang tua yang mengabaikan anak-anaknya dan tidak mengajari mereka kewajiban agama dan sunnah.”
Tim Modul Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPW PKS Jawa Barat mengeluarkan Modul Ketahanan Keluarga Relawan Rumah Keluarga Indonesia sebagai panduan dalam mendidik anak.
Ajarkan anak dengan cinta; ajarkan berdoa agar terbiasa bersandar pada Allah; ajarkan berterima kasih agar terbiasa menghargai; ajarkan kata maaf agar terbiasa memperbaiki; ajarkan berbagi agar terbiasa menyayangi; ajarkan menolong agar terbiasa jauhi sombong; ajarkan kemandirian agar terbiasa bermental kuat; ajarkan keberanian agar terbiasa membela kebenaran.
Ajarkan berkata lembut agar terbiasa santun; ajarkan kejujuran agar terbiasa siap menanggung resiko; ajarkan kesederhanaan agar terbiasa apa adanya; ajarkan memotivasi diri agar terbiasa tak menyerah; ajarkan jawab pertanyaan agar terbiasa mencari solusi; ajarkan cinta baca dan ilmu agar terbiasa dekat dengan kebaikan; dan ajarkan dan berikanlah cinta agar ia akan terbiasa menyintai.
Prof Sartini dalam buku “Pembodohan Siswa Tersistematis” yang ditulis oleh M Joko Susilo, menambahkan panduan dalam mendidik anak.
Jika anak banyak dicela, akan terbiasa menyalahkan; jika anak banyak dimusuhi, akan terbiasa menentang; jika anak dihantui ketakutan, akan terbiasa merasa cemas; jika anak banyak dikasihani, akan terbiasa meratapi nasib; jika anak sering diolok-olok, akan terbiasa menjadi pemalu.
Jika anak dikitari rasa iri, akan terbiasa merasa bersalah; jika anak serba dimengerti, akan terbiasa menjadi penyabar; jika anak banyak diberi dorongan, akan terbiasa percaya diri; jika anak banyak dipuji, akan terbiasa menghargai; jika anak diterima dilingkungannya, iakan terbiasa menyayang; jika anak sering disalahkan, akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri.
Jika anak mendapat pengakuan dari kiri kanan, akan terbiasa menetapkan arah langkahnya; jika anak diperlakukan dengan jujur, akan terbiasa melihat kebenaran; jika anak ditimang tanpa berat sebelah, akan terbiasa melihat keadilan; jika anak mengenyam rasa aman, akan terbiasa mengandalkan diri dan mempercayai orang sekitar; dan jika anak dikerumuni keramahan, akan terbiasa berpendirian ‘sungguh indah dunia ini’.






