Tanggung Jawab Bersama untuk Masa Depan Anak
Untuk itu, ada hal yang mesti dipahami dalam mendidik adalah mengetahui kedudukan anak seperti disebutkan Al-Qur’an, agar pendidikan yang diberikan dapat mengantarkan kepada kesalehan anak. Dalam Al-Qur’an disebut qurrata a’yun (penyenang hati) (QS al-Furqan [25]: 74).
Pertama, sebagai perhiasan dunia (QS al-Kahfi [18]: 46). Sebagai orang tua (dan guru) jangan sampai anak yang memiliki kecerdasan lebih, lebih diperhatikan dalam hal kasih sayang daripada yang memiliki kekurangan. Hal itu dapat membuat orang tua terlena dalam memberikan rasa keadilan terhadap anak.
Kedua, dapat melalaikan (QS al-Munafiqun [63]: 9). Sebagai orang tua (dan guru) hendaknya waspada, jangan sampai anak melalaikan orang tua, membuat malas, dan melupakan dari ibadah kepada-Nya.
Ketiga, sebagai fitnah atau cobaan (QS at-Taghabun [64]: 15). Sebagai orang tua (dan guru) jangan sampai anak menjadi hambatan baginya dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya.
Keempat, sebagai musuh (QS at-Taghabun [64]:14). Sebagai orang tua (dan guru), sebelum terlambat bersegera dalam melakukan tarbiyah (pendidikan) terhadap anak agar tidak menjadi penghalang dalam ketaatan kepada-Nya dan musuh bagi orang tua.
Semoga Allah membimbing kita para orang tua agar dapat mendidik anak menjadi insan yang saleh dan mengantarkan kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Amin. []
Imam Nur Suharno, Penulis Buku “Keluarga Samara Sehidup Sesurga”, dan Kepala Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.






